Weekend Ngapain?

Posted on 10:15 AM


Ah, long time no see you, blog.

Aku lagi terjebak malming sendiri di depan TV nonton Harry Potter. Laptopku sedang rusak, kalau dinyalakan cuma nyala bentar lampu powernya terus mati lagi. Mati pet. Mau booting aja dia nggak sanggup. Kasian dia kelelahan. Lebih kasian lagi aku sih. Pas lagi ada yang harus dikerjain, penting banget. Huhuhu. Beruntungnya, pas si laptop rusak lagi diservis, tiba-tiba dapet pinjeman laptop spesial dari camer. Makasih ibuk camer. :)

Kalau weekend gini, kegiatanku biasanya berputar pada dua kota : Surabaya dan Nganjuk. Kalau minggu ini di Surabaya, bearti minggu depan di Nganjuk. Begitu seterusnya. Tapi kali ini agak berbeda. Minggu lalu aku di Surabaya, dan minggu ini juga di Surabaya. Terus ada mas baik hati yang ngajak jalan dan belanja apa saja yang aku mau. Aku langsung merasa seperti princessss.

“Aku mau sepatu sama sandal di matahari ya.”

“Iya, boleh.”

“Aku nanti ke carefour ya beli alat-alat mandi.”

“Iya, boleh.”

“Nanti beliin mobil ya di dealer depan.”

“……..”

Aku sampai ngebatin, ternyata hari yang diimpikan semua cewek di dunia ini beneran ada ya. Belanja apapun boleh. Apapun dibeliin. Wuuuw. Yang dibelanjain lama-lama jadi ngelunjak, dan yang ngajak belanja pening kepalanya. Belanja harta-harta tersebut tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk seserahan. Ah, the best part of being a bride to be emang “shopping for seserahan” kok. In this case, Im thankful Im a Javanese, yang prosesi pernikahannya adaaa aja, termasuk ngasihin sesearahan dari pihak pengantin pria ke wanita. Hahaha. Emang nikahnya kapan? Rahasia. Berita pernikahan dan khitbah tidak akan diumumkan sebelum waktunya, kecuali pada orang-orang terdekat, bukan? Hehe.

Strategi untuk beli seserahan kami adalah : CATAT DAN CICIL. Catat listnya. Sedikit-sedikit. Kumpulin barangnya. Lalu wow, tiba-tiba udah selemari! Biar nggak kerasa berat belinya dan bisa mikir apa yang kurang, apa yang sudah kebeli. Ini penting, terutama buat cewek yang sense of shoppingnya nggak asik kayak aku gini. Kalau belanja nggak kuat lama-lama, sekalinya belanja nggak pernah lengkap, ada aja yang kelupaan.

Minggu depan harusnya aku pulang ke Nganjuk, tapi tiba-tiba mami ngasih tau ada jadwal workshop di Batu minggu depan. Aaaa. Terus di Surabaya lagi dong. Si mas minggu depan ada pengajian di Malang. Aaaa. Nggak ada temennya dong eke minggu depan. Itu artinya 'mbatang' seharian di rumah. Kalau dipikir-pikir, ternyata di umur segini lingkup kehidupanku makin lama makin menyempit. Rasa semacam ingin balas budi ke orang tua dan keluarga semakin besar. Aku sudah nggak ambil pusing kalau nggak punya waktu buat diriku sendiri, atau jalan sama teman-teman. Itu prioritas ke sekian. Jadi kalau weekend, tidak ada yang lebih indah daripada menghabiskan waktu bersama mami atau ngurusin persiapan ini itu sama mas.

Doakan semuanya lancar ya.

Aku mau melanjutkan kerjaan yang sangat teramat penting. Have a great weekend.

#latepost

this is... 

Worklife Story #2

Posted on 2:21 PM

Nggak kerasa udah hampir setahun aku kerja. Time flies! Berarti kan tandanya aku mayan sibuk dan berguna ya haha.

Kalau diliat2 sih kerjaanku seasonable. Pas high season ya sibuk banget, ngerjain ini itu, jalan kesana kemari. Pas low season, seharian cuman duduk depan komputer - jalan ke tempat printer - tanda tangan - baca-baca - update gosip sama ibuk2 - duduk depan komputer lagi. Contohnya sekarang ini niiih. Selama puasaan low season udah dua minggu, bikin tambah mager, dan tambah banyak ghibah aja. Beginilah kalau gaulnya sama ibuk-ibuk (p.s. di bagianku semua karyawannya wanita dan rata-rata sudah menikah, sudah punya anak).

Well, kalau boleh diakui, ternyata pengalaman kerja setelah lulus itu penting juga. Meskipun kita punya rencana lain seperti kuliah di jenjang yang lebih tinggi, atau mau menikah dan membangun keluarga, tapi pekerjaan pertama kita setelah lulus kuliah itu somehow membantu kita menemukan arah, menetapkan langkah selanjutnya, membantu mengukur pencapaian tujuan hidup kita.

Aku sama sekali nggak berencana bekerja langsung setelah lulus pendidikan profesi karena mikirnya jadi praktisi itu nggak keren-keren amat, dan pasti rutinitasnya bikin jenuh. Jadi aku pengeeeen banget kuliah S2 kemudian jadi dosen, konsultan dan peneliti. Aku suka sekali hal-hal berbau akademik dan saintifik semacam itu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Akhirnya sekarang aku jadi praktisi di industri.

Mmmm... kalau boleh jujur, aku memasuki dunia kerja dengan kepercayaan diri yang runtuh, rendah diri dan merasa tidak berharga karena gagal di seleksi LPDP. Hahaha lebai, tapi emang gitu kok.

Kemudian Allah menggantinya dengan hal-hal indah setelah aku mengikhlaskannya.

Salah satu motivasiku dalam bekerja adalah ngumpulin duit (ah elaah matrek wkwkwk). Salah satu lho, bukan satu-satunya atau nomor satu. Catat itu hahaha. Kenapa? Karena aku ingin segera mandiri. Malu cuy, usia udah 22 tahun, usia produktif, masih minta duit ke mami. Biarkan mami fokus ngumpulin uang untuk biaya nikah anak-anaknya (mangat mi, biar anaknya cepet nikah hahaha). Aku juga ngumpulin modal buat les IELTS, tes IELTS, apply ke uni. Impianku untuk kuliah lagi masih terus kuperjuangkan, dan bakalan lebih bangga kalau untuk meraih itu semua, kita nggak ngerepotin orang tua. Ya, kan?

And do you know what is the best part of earning money? Kita bisa ngasih uang saku ke adek-adek kita, atau ke saudara-saudara kita. Kalau ada krucil-krucil minta dibeliin ini-itu dan kita bisa ngebeliin, even the simplest thing like jajan di indomaret atau sebungkus pentol, rasanya tuh seneeeeng banget. Ya kadang pada ngelunjak dan aku gemes pengen ngejitak.

Itulah yang membuat aku bersyukur ketika
bekerja. Jadi motivasinya bukan ngumpulin uang buat hedon-hedon, beli sepatu satu jutaan atau hp sepuluh jutaan, tapi untuk membuat diri kita dan orang lain merasakan manfaat dan keberkahan dari pekerjaan kita.

Beruntungnya sebagai cewek, aku nggak dikenai kewajiban menghidupi keluarga. Beda sama cowok, begitu masuk dunia kerja, harus siap ngumpulin uang untuk membangun keluarganya kelak. Biasanya sih gitu. Ada juga yang langsung menjadi tulang punggung keluarganya, membiayai sekolah adeknya, dll. Itu benar-benar keren.

Sebenarnya gajiku nggak seberapa dibandingkan teman-teman yang bekerja di jakarta dan sekitarnya, tapi alhamdulillah selalu cukup dan bisa nabung soalnya tinggal di rumah sendiri, nggak ngekos, nggak mikir beli makan hihihi. Berdasarkan hasil kepo ke beberapa teman yang kerja di industri di sekitaran jakarta, aku masih merasa beruntung. Ternyata jumlah saving kami sama, bahkan kadang aku bisa lebih banyak. Ini pertimbangan penting lho dalam memilih pekerjaan. Percuma gaji besar, tapi biaya hidup besar dan gaya hidup waah banget. Selain nggak bisa saving banyak, resiko punya penyakit degeneratif kayak diabetes, hiperlipidemia dan hipertensi juga lebih tinggi, karena beban kerja berat dan suka makan yang nggak sehat. Mmm aslinya ya sama aja, aku suka jajan nggak sehat, padahal beban kerjaku nggak berat.

Oya satu lagi yang harus dipikirkan waktu milih pekerjaan: keluarga. Dulu aku pengeeen banget kerja di tempat yang jauh, di perusahaan keren, gaji besar, dan semacamnya. Ala-ala ambisi freshgrad lah. Tapi sayangnya nggak dibolehin mami. Aku dibolehin kerja di sekitaran Jawa Timur aja. Kesel awalnya, apalagi liat teman-teman merantau ke jakarta dengan bangga. Semakin minder aja gueh. Oke akhirnya aku ngalah, kerja nggak jauh-jauh. Surprisingly, aku merasakan hikmahnya beberapa bulan kemudian. Ternyata rasanya seneng banget bisa menyeimbangkan waktu untuk bekerja dan bertemu dengan keluarga, sedangkan teman-teman yang kerjanya jauh di rantau udah pada pengen balik, kebanyakan homesick. Itu baru beberapa bulan lho, belum setahun.

Akhirnya aku menyadari, kerja itu beda dengan kuliah. Ketika kita bekerja, pulang ke rumah adalah sesuatu yang membahagiakan, lebih dari ketika kuliah. Semua kepenatan menguap begitu kita melihat keluarga kita di rumah, apalagi makanan sudah tersedia di meja. Jadi aku bersyukur banget bisa tiap hari pulang ke rumah, kalau weekend bisa kencan atau ngumpul sama teman-teman, bahkan seminggu tiga kali aku bisa les bahasa inggris. Memang gajiku nggak seberapa, tapi sebagai gantinya Allah memberikan aku semuuuaaa itu, yang aku yakin nggak bisa dibayar dengan gaji sebesar apapun. Buat kalian yang akan segera lulus (terutama lulus pendidikan profesi Apoteker), you have to consider it well. Nggak usah ikut-ikutan teman. Dapat tempat kerja prestis bukan berarti kalian punya segalanya. Toh sama aja kalian jadi karyawan. Nggak usah gengsi juga. Rejeki orang sudah diatur dengan spesifik. Selama pekerjaannya halal dan barakah, dan kalian bisa berdiri di atas kaki sendiri, bahkan bisa membantu orang-orang di sekitar kalian, don't ever doubt your own decision.

Last but not least, kita masih muda. Jangan sampai berpikir kalau hidup cuma beralur kuliah-lulus-kerja-nikah, dan selama kerja cukup puas dengan kegiatan bangun-kerja-tidur-hedon2-kerja. No way. Masih banyak kesempatan untuk menjadikan hidup kita lebih seru. Misalnya kejar beasiswa s2 kek, ikut les-les yang disukai kek, ikut pengajian kek, ikut komunitas hobi kek, ikut lomba fotografi kek, jadi ketua RW kek. Dan kek kek lainnya. Pilih mana, "work hard, play hard" atau "work hard, live a life"? ;)

Sekian meracau hari ini. Selamat menjalankan ibadah puasa. Selamat menikmati THR.

*ditulis sambil ngantri tiket kereta buat mudik lebaran* *ngantrinya tiga jam cuy, sampe bisa selesai ngetik satu artikel gini di hp*


this is... 

Dari Kegagalan

Posted on 7:51 PM


Allah sedang mengajariku dari kegagalan.

Tidak semua harapan harus terpenuhi. Tidak semua angan harus terwujud. Begitu kah?

Mungkin kegigihanku sedang diuji. Aku hanya harus berusaha melewatinya, sebisa mungkin, sambil terus berdoa memohon kekuatan.

Aku mungkin belum cukup baik untuk kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin Allah sedang menyiapkan diriku.

Yang aku tau, takdirnya tak pernah salah, tak pernah mengecewakan.

Aku hanya membutuhkan waktu untuk bangkit. Dan aku akan bangkit.

Mungkin bukan sekarang waktunya menikmati bangku kuliah lagi. Mungkin bukan sekarang waktunya berkutat dengan tugas dan ujian. Mungkin bukan sekarang waktunya mengabdi pada negeri.

Mungkin nanti.

Teruslah berprasangka baik. Allah sedang merajutkan kehidupan terbaik untukmu. #Latepost

this is... 

Worklife Story #1

Posted on 8:57 PM
Sepertinya ini akan jadi cerita klasik orang yang mudah jenuh.

Sudah dari sononya aku dikit-dikit bosan, dikit-dikit jenuh. Makanya nggak heran kalau waktu bekerja kantoran begini aku makin melunjak jenuhnya. Apalagi kalau ditulis rutinitasnya : Senin sampai Jumat kerja, Sabtu-Minggu libur. Senin kerja lagi, nunggu hari Jumat lama banget. Giliran udah Jumat, Senin dateng terlalu cepat. Begitu seterusnya. Yah mungkin karena belum terlalu menikmati pekerjaanku sih, makanya jadi seperti itu. Still on progress. Salah sendiri memilih pekerjaan semacam ini. Hiks.

Kemudian aku membayangkan, kalau sekali dalam sebulan bisa ambil libur di tengah-tengah minggu mungkin bisa mengurangi kejenuhan ya. Sayangnya belum dapat cuti jadi harus survive se-survive-survivenya, menahan diri dari keinginan libur.

Belakangan aku mendapatkan ide untuk rela ijin tidak masuk dan potong gaji sehari. Hahaha.
Akhirnya aku bolos kerja dengan alasan sakit kepala. Eh, tapi emang beneran sakit kepala semacam vertigo. Beneran, nggak bohong kalau yang ini. Awalnya antara sayang potong gaji atau sayang tubuh sendiri. Terus setelah dipikir-pikir, wah kayaknya ini momen yang pas buat nggak masuk kerja. Yaudah, fix bolos. Pagi-pagi mandi, minum parasetamol lalu tidur lagi. Oh Godness, what a life. Hahaha. Kemudian aku bangun sekitar jam 9 pagi, dan ngebayangin kalau jam segini di kantor paling lagi sibuk di depan komputer sambil menguap-nguap. Sejenak saya merasa merdeka. Hihihi.

Ketika mau bangun ternyata kepala masih berat. Duh kalau begini rasanya kesehatan itu harganya senilai potong gaji sehari cuy. Akhirnya aku nonton serial The Mentalist tiga episode di atas kasur sambil chat sama orang yang juga lagi bolos kerja (tapi alasannya lebih worth-it sih dia, huh).

Beberapa minggu yang lalu, aku sempat berpikir, kalau nikah terus nggak kerja, enak kali ya (ini niat yang mulia atau alesan buat males-malesan di rumah btw?). Di rumah, pakai daster, bersih-bersih, masak, cuci-cuci, setrika, boci, nonton tv, kalau pengen produktif dikit bisa nulis-nulis atau jualan online (baca: jual perabot yang ada di rumah). Mumpung di rumah aku mencoba mensimulasikan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Dan ternyata... nggak sepenuhnya enak juga ya kalau setiap hari kayak gitu. Sebagai orang yang terbiasa dengan mobilitas tinggi dan kelakuan yang aneh-aneh, diam di rumah seperti itu nggak enak juga, apalagi sendirian, bisa cepet banget tuh kalau mau nambah berat badan. Hmm... Salut sama wanita-wanita yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga full-time.

Jadi aku membatalkan bayangan “nikah terus nggak kerja”. Nggak apa deh kerja, cari pengalaman, mengamalkan ilmu, sambil tetap jadi ibu rumah tangga yang baik. Kalau jenuh melanda, bolehlah seperti ini lagi, ambil jatah libur sesekali. So, back to work no matter how hard and bad it is – and no matter how much you hate it. Let’s show our power, women.

this is... 

Meretas Waktu : Sumpah Apoteker

Posted on 11:58 PM
Yang terhormat bapak dan ibu dosen. Dan teman-teman seperjuangan yang sekarang sudah menjadi sejawat.

Setelah sekian lama dan berulang kali menulis surat untuk urusan kepanitiaan dan organisasi, pada kesempatan ini saya ingin menulis surat yang berbeda.

Hari ini saya bagai meretas waktu. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, tapi rasanya berlalu terlalu cepat. Jika boleh meretas waktu kembali, saya ingin bilang bahwa saya belum ingin pergi.

Hati ini sudah tak menentu sejak beberapa hari yang lalu. Berkecamuk tak terjelaskan. Senang, sedih, haru, ingin tersenyum, ingin menangis, lelah, mengantuk. Tapi entah kenapa air mata begitu mahalnya.

Sesungguhnya saya belum menemukan tempat lain yang sebaik kampus. Tempat dimana ketenangan dan keramaian dapat ditemukan di berbagai sudutnya, dan bisa dipilih. Tempat dimana setiap jerih payah dapat membangun kekuatan. Tempat dimana pelajaran demi pelajaran diungkap baik di dalam maupun di luar kelas.

Saya menyukai kehidupan perkuliahan. Segala yang ada di dalamnya, meski tak sempurna, tak pernah membuat saya jengah dan ingin pergi. Saya mencintai ilmu pengetahuan. Mendapatkannya adalah penghargaan dan pembuktian bagi kejernihan kalbu.

Menjadi mahasiswa farmasi bukan sesuatu yang mudah bagi saya. Ada kalanya ingin menyerah. Tapi apa yang disebut orang dengan passion menjadi alasan untuk tak berhenti. Tak usah dipungkiri, saya pernah berkeluh kesah ketika merasa tugas kuliah dan praktikum tak ada ujungnya. Dan tak perlu merutuki diri ketika nilai ujian naik turun tidak karuan. Bagaimanapun saya hanyalah mahasiswa biasa.

Saya berawal dari mahasiswa baru dengan semangat belajar besar, yang kemudian menikmati pertemuan demi pertemuan di ruang kuliah, laboratorium dan meja rapat. Seringkali hari-hari saya di kampus berakhir setelah menyelesaikan rapat dan bulan sudah terang. Akhir minggu yang benar-benar kosong menjadi sesuatu yang hampir mustahil bagi saya. Pada semua itu, ada canda tawa teman-teman yang menyenangkan. Dan saya mensyukurinya.

Maka inilah saya sekarang. Berdiri berjajar dengan rekan-rekan sejawat apoteker baru. Menatap haru ibu saya yang duduk di barisan orang tua, juga berharap ayah saya bisa tersenyum bangga dari surga. Hari ini saya bagai meretas waktu. Rasanya baru saja kemarin bercerita kepada ibu tentang kuliah-kuliah yang rumit dan menyenangkan. Rasanya baru saja kemarin beliau menelepon berkali-kali karena anaknya belum pulang dari kampus hingga larut.

Mengucap sumpah dengan awalan “Demi Allah” bukan sesuatu yang ringan, dan akan dipertanggungjawabkan saat hisab nanti. Amanah ini akan dipegang seumur hidup. Meskipun belum ingin meninggalkan kampus, saya harus tetap keluar. Bagi mereka, saya dan rekan-rekan telah siap menjadi apoteker. Kampus tidak mengusir saya, tapi memang sudah saatnya saya pergi. Hingga nanti saya berkesempatan untuk kembali lagi.

Allah telah membawa saya ke titik ini. Syukur tak terhingga terhaturkan kepadaNya atas nikmat yang tak ternilai. Sungguh tiada daya dan upaya tanpa pertolongan dariNya.

Terima kasih saya sampaikan kepada ibu saya tercinta, yang tak pernah lelah mendukung dan mencintai saya hingga kapanpun. Kepada dosen dan pembimbing yang menjawab setiap keingintahuan saya dengan bijak. Kepada sahabat-sahabat yang mewarnai kehidupan saya. Kepada rekan-rekan sejawat yang berjuang bersama selama ini. Dan kepada semua pihak yang tak dapat saya sebutkan satu persatu.

Hari ini saya bagai meretas waktu. Meretas lima tahun yang berharga dan akan selalu terkenang hingga nanti-nanti.

Mohon doanya agar apoteker baru ini dapat mengemban amanah sebaik mungkin. Demi Allah, bangsa dan almamater.

Chyntia Tresna Nastiti, S.Farm., Apt.
Yang baru saja diambil sumpahnya.



this is... 

Chyntia's Notes

it's all about chyntia, her way to live this life and her wonderful life :)

Suatu Hari...

Suatu hari aku akan menuliskan ceritaku di dalam sebuah buku tebal dengan namaku tercantum di punggung buku sebagai pebulisnya dan logo emas international best seller berkilau pada covernya.

Followers

The Visitors

Locations of visitors to this page

About Me

My Photo
Chyntia's notes
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Seseorang yang percaya pada impian-impiannya, tidak meragukan kekuasaan-Nya untuk menjadikan semuanya nyata. Berusaha merekam setiap pelajaran hidup dalam benak dan mencari cara untuk lebih menghidupkan hidup. :)
View my complete profile

you're the #

Shout Here !

Tick Tock

Recent Posts