A Marriage Life #1

Posted on 7:42 PM
Hap! Hello blog!

First time writing here after marriage nih. Sudah bisa ditebak dong kira-kira eyke aku mau nulis apa.

Sekarang rasanya sussaaah banget nemuin waktu buat nulis-nulis macam gini. Biasanya aku nulis lewat laptop, tapi sekarang jarang banget buka laptop. Sekalinya buka laptop pasti buat nulis esai dan semacamnya. Mau nulis di hp, kurang gimanaa gitu ya. Tampilan blogger kurang friendly di mata kalau lewat hp. Jadi lebih seringan meracau di instagram.

Buat yang nanya kenapa kok banyak hashtag meracau di instagramku, jawabannya adalah... yaa emang meracau abis. Apa yang muncul di pikiran, langsung aja ditulis sambil nyari foto yang cocok (padahal kagak ada yang cocok, isi galeri foto diri sendiri semua, yaudah akhirnya seadanya, dicocok-cocokin). Makanya jangan heran dengan segala ketypoan, ketidaknyambungan foto dengan caption, dan kejanggalan apapun itu.

Buat yang buka feedku pasti tau kalau yang aku post foto berdua sama suami mulu, sampe bosen liatnya. Sampe sama orang-orang dikatain love bird lah, bertaburan cinta lah. Begitu juga dengan dia, sekalinya upload di akunnya langsung foto nunjukin cincin berdua. Eaaak~ Maklum dah maklum, masih baru.

Kami memang nggak pernah upload foto berduaan sebelum nikah, dan insyaallah nggak pernah upload foto berduaan dengan siapapun yang bukan mahram sebelumnya. Kalaupun pernah ada yang liat di feed, itu bukan perbuatan kami. Bisa jadi ditag sama orang lain atau dibajak. Alhamdulillah hasilnya waktu udah nikah jadi agak kalap upload gitu. Hahaha. Apakah kamu juga seperti kami?

Saat prosesi lamaran pun kita nggak punya foto berdua semacam teman-teman kami lainnya yang foto berdampingan sambil nunjukin cincin dan background bunga-bunga. Bahkan yang memakaikan cincin ke jariku bukan dia, tapi ibunya. Sama sekali nggak terpikir buat foto pamer cincin gitu. Hiks, sayang ya.

Begitulah spesialnya foto berduaan kami. Tapi habis ini paling udah bosen, terus ganti foto sendiri lagi, minta difotoin sama dia. *Sabar ya mas, istrimu emang sukanya narsis.

Mmmm.. oke cukup ngomongin foto. Sekarang semua merapat kesini, kakak mau cerita sedikit tentang lika-liku perjalanan ini (gaya mau dongengin anak-anak). Kemungkinan ceritanya bakal bersambung atau menggantung sesuai mood penulis (mulai deh seenak udel).

Jadi begini...

*btw kenapa ya kalau cerita diawalin "jadi begini" keliatannya lebih enak?* (nggak fokus).

Aku dan Dani bisa dibilang punya irisan hidup yang besar (sambil gambar diagram venn). Kami sekelas selama 4 tahun di S1, kebetulan satu kelompok praktikum di berbagai jenis praktikum juga, cuma di program profesi aja beda kelas. Kami juga berkali-kali terlibat organisasi, project, kompetisi, kegiatan kampus yang sama. Untuk lebih detailnya bisa diliat di salah satu caption di instagram ku. Mayan panjang listnya, males nulis lagi wkwk (siapa jugaa yang mau tau, pede amat). Jadi pertanyaan "kalian ketemunya dimana dulu kok bisa jadi?" tidak pernah diajukan sama sekali untuk kami. Hihihi.

Nah yang bikin orang bertanya-tanya adalah aku yang begini dan dia yang begitu, kami berdua yang menolak dan salting kalau dicie-ciein, kok tiba-tiba menghembuskan kabar lamaran terus nikah? Apakah kami diam-diam pacaran? Jawabannya adalah...

Semua sudah ditakdirkan Allah. Udah gitu aja. Sejujurnya aku juga bingung kalau ditanya begitu. Mungkin ini berawal dari doa-doa kami, juga perasaan merah jambu yang berseliweran di hati sejak lama. *muka memerah*

Dia terlihat mendekat saat aku berada di antara beberapa pilihan, tapi aku tidak terjebak dalam galau berkepanjangan untuk memilih apa dan siapa. Yang tercetus di pikiran hanya Dani. Masih merupakan misteri sih mengapa aku bisa sesantai itu menjatuhkan pilihan kepadanya, tanpa ada pengaruh dari siapapun, tanpa mau terlalu repot membandingkan dengan siapapun. Mungkin doa Dani sebegitu kuat sampai Allah memudahkan aku untuk 'sreg' padanya. Jadi malu, ternyata segitunya kamu memperjuangkanku diam-diam mas ckck. Tapi kami sama seperti orang kebanyakan, sempat terjebak masa penuh pikiran yang cukup berat. Tempat kerja yang berjauhan, cita-cita yang masih harus dikejar, tabungan yang terus dikumpulkan, dan lain-lain yang semuanya penuh perjuangan dan drama.

Aku pun belajar tentang pengorbanan, perjuangan, kesabaran lebih banyak dari sebelumnya. Sampai-sampai tidak pernah ada semalam pun yang kulewatkan tanpa menangis sebelum tidur (ya emang nangisan sih aslinya).

Di tengah-tengah balada itu kami berusaha mengintenskan ibadah sunnah. Puasa, tahajud, sholat hajat. Berharap proses kami dimudahkan... *kok jadi drama ya.

Yang masih kuingat betul adalah kata-katanya ini, "Menikah itu ibadah. Setiap ibadah ada cobaannya. Contohnya sholat. Ada aja gangguannya. Masih kerja kek, masih males kek, masih males kek. Akhirnya yang imannya tidak kuat akan menunda. Begitu juga dengan menikah. Pasti ada aja cobaannya. Tinggal kita kuat menghadapinya atau tidak."

Sweet kan? Coba kita renungi dan iyakan dalam hati.

Dan alhamdulillah hati yang ketir-ketir mulai berani, dan seiring dengan semakin kuatnya niat, sedikit demi sedikit jalan mulai terang.

Jadi sebenarnya banyak halangan rintangan yang kami lalui sebelum menikah. Mungkin orang lain juga begitu. Dan semua itu akan kusimpan rapi. Kalau-kalau ada masalah yang harus kami hadapi dan terasa berat, aku akan ingat betapa tak sedikit yang sudah kami hadapi dahulu, jadi kali ini kami pasti bisa. (ehem suami gueh pasti bangga dan terharu kalau baca ini).

Oke sekian dulu #meracau saya kali ini. Capek ngetik lewat hp. Next aku akan menceritakan bagian lain yang lebih seru.



this is... 

Khitbah Moment

Posted on 9:16 AM


Aku masih ingat malam itu. Bau tanah menyergap seusai hujan. Satu-dua rintik lembut berpendar cahaya dari lampu di jalan. Di ruang tamu yang berkesan hangat karena cahaya lampu temaram, kau duduk tenang di sana. Rambutmu basah terkena hujan. Lengan panjang kemejamu terkancing rapi. Raut wajahmu sedikit tegang namun sorot matamu tenang. Kali itu kau datang seorang diri, berbekal doa restu dari ibumu, untuk berhadapan dengan waliku.

“Begini yangkung, saya dan keluarga berencana datang ke rumah Tia dengan niat ingin meminta Tia.”

Aku menguping sedikit dari balik selambu. Jantungku berdegup kencang.

“Sepertinya Tia masih ingin sekolah lagi, mas.” kata Yangkung.

“Saya akan mengizinkannya. Setelah menikah nanti saya akan mendukungnya untuk kuliah lagi.”

Lalu majelis di ruang tamu itu semakin damai dan hangat.

“Dia yang pertama buat saya, yangkung, dan insyaallah yang terakhir.”

Aku berkaca-kaca mendengarnya. Pun, ketika menuliskan ini. Tak sanggup air mata haru ini tertahan lagi.
Saat itu aku yakin, aku adalah wanita paling bahagia kedua di dunia. Yang pertama adalah aku yang menikah denganmu nanti. Dan aku akan segera menjadi wanita paling bahagia nomor satu di dunia :’)

Aku kehabisan cara mengungkapkan terima kasih kepadamu. Atas istikharah yang tersebutkan namaku. Atas doa-doa yang kau panjatkan di sepertiga malammu. Atas ketulusan dan pengorbananmu. Atas segala usahamu membahagiakanku. Atas seluruh sisa hidupmu yang akan kau habiskan bersamaku.

Sudah siap, mas? ;)

this is... 

Little Reunion

Posted on 7:40 AM

For a melancholic person, having friends like them is something worth to write.

Dani dan Ulil. Dua cowok ini aku temukan di kehidupan kampus yang hectic luar biasa. Yang satu polos tapi agak kaku, yang satu lagi konyol tapi polos. Dua-duanya kreatif dan suka bikin karya yang anak farmasi kebanyakan pada nggak bisa.

Kami bertiga sebenarnya sibuk sendiri-sendiri, berdiri di atas kepentingan organisasi yang berbeda, yang satu ikut lomba karya ilmiah mulu, yang satu sibuk di rohis mulu, yang satu sibuk jadi sekretaris mulu (bisa ditebak kan siapa yang jadi sekretaris mulu). Somehow aku bahagia sering menemukan mereka di sekitaran kampus walaupun dalam kondisi mengenaskan semacam lagi duduk bengong di depan laptop di depan lab kimed atau berjalan terlunta-lunta dengan dahi berkerut-kerut akibat kebanyakan mikir. Hahaha.

Waktu musim ujian, kami berjuang agar terjaga sampai dini hari, kalau bisa sampai pagi. Mereka berdua kadang belajar bareng di kosan lalu menghubungi aku lewat sms atau chat. Jadi ceritanya belajar bersama jarak jauh. Ya kadang resek juga sih kalau dipikir-pikir, jam setengah dua malam, kalau aku sudah selesai belajar tapi mereka belum, hpku nggak berhenti bunyi.

"Cin iki yaopo?"

“Ngantuuuk.”

"Duh aku durung mari, ojok ditinggal turuu."

Ulil nih yang biasanya kayak gitu.

Lalu besoknya waktu ujian lingkaran mata rasanya udah lebih hitam dari matanya panda.

Aku sering terlibat organisasi dan kompetisi yang sama dengan Dani, tapi kalau sama Ulil sepertinya saat kepanitiaan SE aja. Itupun lagi-lagi jadi sekretaris. Kalau bukan dia yang jadi ketua, nggak bakalan aku terima job itu *jadi ini ceritanya terpaksa? hahaha, eh nggak boleh terpaksa ding, nanti nggak dapat pahala.

Selain itu, kami sering sekelompok praktikum dan tugas. Mulai dari praktikum di lab sampai kelompok tugas yang beraneka macam semacam bikin presentasi, acara talkshow atau bikin video. Dan kelakuannya ada-ada aja.

Dulu sempat terbesit pikiran, if one day i marry one of these guys, i will be the luckiest woman in earth. At least, another man that looks alike. Secara aku mengenal mereka nggak sebentar, tau kalau mereka tipe orang yang baik dan bertanggung jawab, punya nilai plus dibandingkan orang di sekitarnya. Walaupun kadang saling bertingkah menyebalkan, kami nggak pernah sampai bertengkar. Yaiyalah mereka cowok. Trus mereka ini tipe yang one for a lifetime. Sekalinya mencintai seorang wanita, berarti itu untuk selamanya. Tssaaahh.

Lama-lama Ulil terlihat mempunyai niat menjodohkan aku dengan temannya yang polos tapi agak kaku itu. Waktu itu aku istilahnya "moh moh temen". Padahal ya Lil, itu cuma bilang nggak mau di mulut doang. Di dalam hati siapa tau malah berdoa mengaminkan. Hahaha. Akhirnya Ulil pun mengurungkan niatnya menjadi perantara antara aku dan Dani.

Aku juga sempat berharap, sampai nanti-nanti walaupun kami sudah lulus, sudah berkeluarga, sudah jadi orang sukses, kami akan saling mengunjungi. Waktu itu aku belum tau apakah kami ini tipe orang yang deket pas lagi ada butuhnya aja atau yang selamanya bisa saling berbagi, tapi semoga sajalah yang kedua, karena tipe teman yang pertama sudah banyak, baik pas ada butuhnya aja, terutama butuh pas ujian, pas belajar, pas ngerjakan tugas. Setelah masa belajar selesai, aku nggak dianggep. *no offense*

Sekarang, saat aku dan Dani akhirnya 'dipertemukan' oleh Allah, dan semakin dekat dengan hari pernikahan. Tentu saja Ulil jadi orang yang sangat berbahagia. Dia juga tau garis besar rencana kami ke depannya. Seringkali aku bilang, "dungakno yo lil.", lalu dia menjawab dengan penuh takzim, "takdungakno cin, mugo-mugo yo. Aamiin." Berasa minta doa ke mbah kyai aja ya.

Begitu juga dengan kisah hidup Ulil. Aku dan Dani sudah jelas akan selalu mendukung (dan menggodanya sampai salting sebagai balasan kelakuannya dulu yang sering membuat aku dan Dani salting).

Aku baru menyadari, ternyata ketulusan untuk saling mendoakan itu memperkuat silaturahim. Doa menembus jarak dan waktu, jadi keduanya bukan masalah selama kita masih ingat mendoakan satu sama lain. Kalau ada teman-teman kita yang terasa menjauh dan tidak kunjung kembali, mari kita lihat apakah kita masih saling mendoakan satu sama lain?

So, Ulil, which side are you now? My bridesmaid or his best man? Hmm... I understand if you don’t want to be my bridesmaid as the attire doesn’t fit in you, so you could be his best man (and let your spouse to be my bridesmaid maybe hahaha).


this is... 

Saat gurumu bertanya, “ada pertanyaan?”

Posted on 8:51 PM







“Ada pertanyaan?”

Begitu biasanya guru dan dosen kita bertanya setelah selesai menjelaskan suatu materi. Sebagai jawaban, murid-muridnya hanya diam tak bersuara. Kalaupun ada yang bertanya, paling satu-dua, dan hanya anak itu-itu saja. Lainnya diam seribu bahasa, entah sudah paham atau tidak paham sama sekali.

Ketika jaman sekolah, aku termasuk yang paling tidak berani bertanya. Kadang karena nggak ngerti sama sekali. Kadang punya pertanyaan tapi hanya berani nanya di dalam hati. Mungkin juga karena gurunya nanya “ada pertanyaan?” dengan muka tidak ingin ditanyai makanya yang mau nanya jadi takut. Hahaha.

Ketika kuliah aku juga masih sempat seperti itu. Saat dosen melontarkan pertanyaan “ada pertanyaan?”, hatiku langsung bergemuruh *halah lebai. Mau nanya, deg-degan. Mau nggak nanya, sedih. Galaunya udah kayak lagi ditembak aja. Memang dasarnya tukang nanya, tukang protes, tukang kepo gini, terasa sedih kalau nggak nanya. Akhirnya, ketika sudah susah payah menguatkan hati, sesi pertanyaan ditutup.

“Yak kalau sudah tidak ada pertanyaan, kuliah saya akhiri sampai di sini.”

Akupun lemas. Kelamaan sih mikirnya.

Kalaupun aku bertanya biasanya karena tangan diangkat paksa atau habis sikut-sikutan sama teman sebelah karena dia sebel sama aku yang dari tadi penasaran tapi nggak berani bertanya.

Sampai akhirnya aku bertemu teman yang bercerita tentang masa kecilnya. Ketika sekolah dasar, dia termasuk anak yang tidak pintar. Nilai-nilainya jelek. Dia banyak nggak ngertinya. Lalu dia nangis ngadu ke papanya. Oleh papanya dia dibilangin gini, “kamu kalau nggak ngerti, tanya ke gurunya. Jangan malu dan takut. Orang bilang kamu bodoh, biarin. Orang bilang apapun biarin, pokoknya kamu jangan pernah takut bertanya kalau nggak ngerti.” Kemudian sejak saat itu dia jadi anak yang kritis dan berani bertanya. Percaya dirinya pun meningkat, belajarnya semakin rajin, sehingga nilai rapornya membaik.

Dari cerita itu aku belajar bahwa bertanya itu bukan sesuatu yang salah. Jadi nggak boleh malu, nggak boleh takut. Aku sejak kecil juga sudah terbiasa bertanya macam-macam ke mami dan papa. Jadi kenapa waktu sudah besar nggak berani bertanya ke dosen?

Aku pun berubah sedikit demi sedikit untuk berani mengangkat tangan dan bertanya di kelas. Kalau masih ragu, aku mengangkat tangan sambil merem. Nekat aja dah, nggak burket juga kok. Meskipun kadang kalau nanya suka belepotan dan harus diulang karena dosennya bingung, aku tetap bertanya. Kadang ada juga teman yang waktu aku nanya dia menunjukkan ketidaksukaan karena kuliahnya jadi agak memanjang akibat pertanyaanku, atau karena dia sudah tau jawabannya dan melengos. Aku acuh tak acuh. Mumpung masih kuliah, mumpung masih ada orang yang bisa ditanyain. Belum tentu orang lain yang tidak bertanya itu lebih pintar, bukan?

Seiring berjalannya waktu, aku berkesempatan mengisi materi di seminar dan semacamnya di kampus. Di kesempatan menjadi public speaker itu, aku semakin memahami makna “ada pertanyaan?” yang terlontar di akhir materi. And who knows the grateful feeling when the questions come, and what a relief when they don’t come hahaha.

Sekarang salah satu job desc-ku adalah menjadi trainer untuk level staff dan operator di perusahaan. Setelah memberikan training, kalimat “ada pertanyaan?” sudah otomatis keluar dari mulut. Sering juga di awal materi aku bilang, “kalau ada pertanyaan, boleh langsung angkat tangan ya.” It means that I really wonder your question and feedback, so come on ask me something. Ternyata setelah menjelaskan lalu ada yang bertanya itu rasanya bener-bener penghargaan banget buat seorang speaker. Oh berarti aku didengarkan. Level semangatku langsung naik beberapa tingkat.

Aku selalu berharap ada pertanyaan, apapun pertanyaannya. Penting atau tidak penting. Sulit atau gampang. Kalau aku tidak bisa menjawab, biasanya aku menjanjikan untuk mencari jawabannya dan menghubungi si penanya kalau sudah menemukan jawabannya. Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan bahwa materinya ada yang kurang sehingga harus ditambahkan atau diperbaiki di kelas berikutnya.

Jadi sekarang saya ngerti perasaan dosen, guru, trainer, speaker ketika mereka mendapat pertanyaan. Percayalah, mereka senang sekali mendapat pertanyaan (tapi nggak tau sih ini berlaku untuk semua orang atau nggak). Nggak setiap speaker dapat sertifikat atau plakat di akhir materi, jadi berilah penghargaan berupa feedback dan pertanyaan. Itu sudah sangat membahagiakan mereka kok. Buat adek-adek yang masih sekolah atau kuliah, jangan pernah ragu untuk bertanya. Pandanglah tindakan bertanya itu sebagai tindakan untuk menyenangkan hati guru kita, bukan sesuatu yang menakutkan dan akan membuatmu dibenci. Okay? Pesan ini disampaikan oleh trainer yang lagi curhat. Hahaha.

this is... 

Weekend Ngapain?

Posted on 10:15 AM


Ah, long time no see you, blog.

Aku lagi terjebak malming sendiri di depan TV nonton Harry Potter. Laptopku sedang rusak, kalau dinyalakan cuma nyala bentar lampu powernya terus mati lagi. Mati pet. Mau booting aja dia nggak sanggup. Kasian dia kelelahan. Lebih kasian lagi aku sih. Pas lagi ada yang harus dikerjain, penting banget. Huhuhu. Beruntungnya, pas si laptop rusak lagi diservis, tiba-tiba dapet pinjeman laptop spesial dari camer. Makasih ibuk camer. :)

Kalau weekend gini, kegiatanku biasanya berputar pada dua kota : Surabaya dan Nganjuk. Kalau minggu ini di Surabaya, bearti minggu depan di Nganjuk. Begitu seterusnya. Tapi kali ini agak berbeda. Minggu lalu aku di Surabaya, dan minggu ini juga di Surabaya. Terus ada mas baik hati yang ngajak jalan dan belanja apa saja yang aku mau. Aku langsung merasa seperti princessss.

“Aku mau sepatu sama sandal di matahari ya.”

“Iya, boleh.”

“Aku nanti ke carefour ya beli alat-alat mandi.”

“Iya, boleh.”

“Nanti beliin mobil ya di dealer depan.”

“……..”

Aku sampai ngebatin, ternyata hari yang diimpikan semua cewek di dunia ini beneran ada ya. Belanja apapun boleh. Apapun dibeliin. Wuuuw. Yang dibelanjain lama-lama jadi ngelunjak, dan yang ngajak belanja pening kepalanya. Belanja harta-harta tersebut tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk seserahan. Ah, the best part of being a bride to be emang “shopping for seserahan” kok. In this case, Im thankful Im a Javanese, yang prosesi pernikahannya adaaa aja, termasuk ngasihin sesearahan dari pihak pengantin pria ke wanita. Hahaha. Emang nikahnya kapan? Rahasia. Berita pernikahan dan khitbah tidak akan diumumkan sebelum waktunya, kecuali pada orang-orang terdekat, bukan? Hehe.

Strategi untuk beli seserahan kami adalah : CATAT DAN CICIL. Catat listnya. Sedikit-sedikit. Kumpulin barangnya. Lalu wow, tiba-tiba udah selemari! Biar nggak kerasa berat belinya dan bisa mikir apa yang kurang, apa yang sudah kebeli. Ini penting, terutama buat cewek yang sense of shoppingnya nggak asik kayak aku gini. Kalau belanja nggak kuat lama-lama, sekalinya belanja nggak pernah lengkap, ada aja yang kelupaan.

Minggu depan harusnya aku pulang ke Nganjuk, tapi tiba-tiba mami ngasih tau ada jadwal workshop di Batu minggu depan. Aaaa. Terus di Surabaya lagi dong. Si mas minggu depan ada pengajian di Malang. Aaaa. Nggak ada temennya dong eke minggu depan. Itu artinya 'mbatang' seharian di rumah. Kalau dipikir-pikir, ternyata di umur segini lingkup kehidupanku makin lama makin menyempit. Rasa semacam ingin balas budi ke orang tua dan keluarga semakin besar. Aku sudah nggak ambil pusing kalau nggak punya waktu buat diriku sendiri, atau jalan sama teman-teman. Itu prioritas ke sekian. Jadi kalau weekend, tidak ada yang lebih indah daripada menghabiskan waktu bersama mami atau ngurusin persiapan ini itu sama mas.

Doakan semuanya lancar ya.

Aku mau melanjutkan kerjaan yang sangat teramat penting. Have a great weekend.

#latepost

this is... 

Chyntia's Notes

it's all about chyntia, her way to live this life and her wonderful life :)

Suatu Hari...

Suatu hari aku akan menuliskan ceritaku di dalam sebuah buku tebal dengan namaku tercantum di punggung buku sebagai pebulisnya dan logo emas international best seller berkilau pada covernya.

Followers

The Visitors

Locations of visitors to this page

About Me

My Photo
Chyntia's notes
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Seseorang yang percaya pada impian-impiannya, tidak meragukan kekuasaan-Nya untuk menjadikan semuanya nyata. Berusaha merekam setiap pelajaran hidup dalam benak dan mencari cara untuk lebih menghidupkan hidup. :)
View my complete profile

you're the #

Shout Here !

Tick Tock

Recent Posts