Saturday, May 13, 2017

Published 1:38 PM by with 0 comment

Ya Harus Kasihan... #meracau



Ini sebagian dari brainstorming dengan suami kemarin. Brainstorming yang kulakukan demi mendinginkan kepala dan mengembalikan energi yang banyak tersedot di isu politik dan agama yang membuat jengah ini.

“Bi, kalau melihat nonmuslim membela si A sih aku maklum, Bi. Itu sudah sewajarnya. Tapi terhadap muslim yang berada di pihak si A, kita harus gimana ya, Bi?”

“Ya harus kasihan, say...” jawabnya menggantung.

“Kasihan gimana? Bahkan ada yang sampai hati mengolok-olok agamanya sendiri demi membela si A lho, Bi. Yang sentimental bahkan sampai nangis-nangis.”

“Iya aku juga jadi pengen nangis. Nangis karena kasihan sama mereka. Kasihan mereka mungkin nggak dapat pendidikan agama yang cukup. KTP-nya Islam, sudah lumayan dikasih Allah agama Islam sejak dia lahir, tapi belajar agama Islam hanya di permukaannya saja. Mungkin juga mereka dibesarkan di tengah masyarakat Islam yang pendidikannya menengah ke bawah. Tau kan, say? Kayak golongan yang pernah kita lihat dari dekat barusan. Terus mereka jadi malu karena profil muslim yang mereka lihat terbatas pada muslim yang kurang berpendidikan, aqidahnya jelek, akhlaknya jelek. Mereka jadi malu sama agamanya sendiri. Kemudian dia melihat golongan orang yang membela A berpendidikan, tajir, nah jadinya mereka lebih suka ikutan membela si A. Digiring sama opini untuk membela pihak yang menghina agama mah oke-oke aja mereka.”

Lalu muncul rasa iba di benakku, yang mungkin sama seperti yang dirasakan suamiku.

“Kita harus kasihan, say,” ulangnya.

Kadang ngomong sama dia berasa chatting sama online shop, manggilnya pakai ‘say’.

“Orang di tempat kerjaku ada yang kayak gitu sih, Bi. Dia berasal dari daerah yang kayaknya masyarakatnya nggak pinter-pinter amat agamanya, ngajinya juga setengah-setengah, ibadah sunnah yang dilakukan juga nggak berdasarkan dalil yang shahih. Ah, dia mana tau apa itu shahih. Mmmm secara aqidah juga kadang keliatan baik, kadang nggak. Trus dia suka baca berita di akun-akun medsos dan media yang kebetulan memang bertujuan menyesatkan pemahaman orang yang ngajinya setengah-setengah gitu. Jadi nggak heran kalau sekarang dia sentimental ngebelain orang yang menghina agamanya sendiri.” jelasku dengan nada iba, “Ciyan ya, Bi. Tadinya aku pengen marah, tapi setelah kamu bilang kasihan, aku jadi ikut kasihan.”

Aku dan suamiku merasa beruntung hidup di tengah keluarga dan masyarakat yang berpendidikan, secara agama, pengetahuan dan keyakinannya lumayanlah untuk membentengi diri dari kesesatan media, menghindari bid’ah dalam beribadah, dan dikelilingi masjid-masjid yang syiarnya aktif. Alhamdulillah. Kalau nggak, mungkin kami akan sama tersesatnya.

“Trus mereka, orang-orang Islam yang membela si A itu, termasuk orang yang kita perangi tidak di hari akhir nanti?”

Seperti kita tau, salah satu tanda dari hari akhir adalah ketika umat Islam diserang dari segala arah namun malah sedang kuat-kuatnya, dan nantinya orang-orang yang beriman bersama Imam Mahdi akan memerangi pasukan orang-orang kafir, dengan menggunakan tombak dan pedang. Ini kami pelajari di Kajian Akhir Zaman. Maaf saat itu kami tidak mencatat sumbernya, tapi insyaallah hadist shahih.

“Manusia akan dikumpulkan dengan kekasihnya, say. Jadi, ya, mereka akan bersatu dengan orang kafir yang mereka senangi itu. Yah, setidaknya mulai sekarang kita tau siapa yang akan kita perangi di hari akhir nanti, bukan hanya yang jelas-jelas tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga yang mengaku beriman tapi membelot keluar lingkaran kita.”

Aku terbelalak dengan mulut ternganga sambil memegangi kedua pipi, kayak gayanya Kevin di film Home Alone. Aku melihat sekeliling dan menandai secara tak kasat mata orang-orang yang termasuk di pihak itu.

Tsabit qalbi ‘alaa ta’atik, Ya Allah.
Read More
      edit