Monday, January 13, 2014

Published 1:05 AM by with 0 comment

Yang Paling Memahami


20.22
Hp menyanyikan lagu ‘Demi Matahari’.

“Assalamualaikum. Astagfirullah, sudah subuh ya, Ma?”

“Waalaikumsalam. Belum, masih jam 8. Tidur ya?”

-___-

Aku ketiduran (lagi) ketika menunggu adzan Isya. Untung mama telpon lebih awal. Biasanya mamaku nelpon pagi-pagi waktu Subuh. Kalau tidak, mungkin ketika bangun hari sudah berganti dan itu artinya aku tidak belajar. Besok (masih) ujian, latihan presentasi proposal skripsi di depan dosen pembimbing. Hmm apa lagi? Oh ya, harus mengumpulkan naskah akademik Farmasi Masyarakat dan proposal permohonan dana SE. Aah, aku sudah janji akan menangani semuanya. Kepalaku terasa berat sekali.

“Sudah siap ujian sama presentasinya besok?”

“Belum, Ma,” ujarku sambil beringsut menjauh dari bantal, “doakan ya.”

“Iya, mama doakan.”

Aku menghirup napas panjang. Kepalaku masih terasa berat. Napasku juga. Terbebani. Dan agaknya mamaku bisa merasakan itu.

“Semuanya pasti bisa terlalui. Pasti bisa.” kata beliau meyakinkan.

Aku hanya diam. Menangis tidak. Tersenyum pun tidak. Pertanda jenuh sudah di ubun-ubun dan hati ingin berontak tapi tak bisa.

Namun rasanya kata-kata itu adalah semua yang aku butuhkan saat itu. Ya, tidak ada yang perlu diragukan ketika yang berkata demikian adalah orang yang paling mengenalku selama hidupku.  Ia sangat memahami apa yang akan dan sedang aku hadapi. Minggu UAS yang padat. Proposal skripsi yang memasuki fase kritis. Amanah di sana-sini. Dan ia juga sangat memahami betapa bersemangatnya aku ketika membicarakan Farmakoterapi yang akan diujikan besok. Juga memahami betapa khawatirnya aku.

“Sudah dicicil belum belajar Farmakoterapinya?”

“Sudah, Ma. Waktu minggu tenang sudah belajar, tapi sekarang lupa lagi. Tadi juga sempat diskusi kasus fraktur sama Bu Samirah, tapi belum yakin bisa.”

“Ya sudah, dipelajari sebisanya sekarang. Sama disiapkan presentasinya besok.”

04.00
Adzan Subuh berkumandang. Hpku bernyanyi ‘Demi Matahari’ lagi. Ini pasti mamaku ingin membangunkan aku. Reject.

Kemudian nada standar pesan masuk berbunyi.

“Sudah bangun?”

“Belum tidur, Ma.”

“Oalah cin.”

Aku hanya ber-hehe-hehe.

05.00
Aku tidak kuat lagi. Ya Allah, tidur sebentar boleh ya. Satu jam kemudian temanku menyampaikan pesan dari dosen pembimbing bahwa presentasinya ditunda nanti sore. Aaah, ini seperti hadiah dari Allah atas perjuanganku semalam. Aku menarik bantal, memejamkan mata seraya membisikkan terima kasih untuk mamaku yang begitu baik dan berkata maaf pada tubuhku karena terlalu sering mendzaliminya akhir-akhir ini.

Begitulah perjuangan. Semoga menjadi hadiah yang membahagiakan untuk mamaku, orang yang paling memahamiku.
Read More
      edit