Friday, March 25, 2011

Published 8:33 AM by with 0 comment

Seseorang Bernama Sempurna


Ia bernama Sempurna dan semua tentangnya begitu sempurna.

Dia adalah orang yang sempurna. Dari segi penampilan, ia cantik, senyumnya manis, bertubuh tinggi semampai, rambutnya halus tergerai, kulitnya cerah, wajahnya cerah, sorot matanya ramah namun tegas.

Dia adalah orang yang sempurna. Pribadinya mengesankan. Ia baik hati, ramah dengan siapa saja, tegas, tidak sombong, cerdas, berani, taat beribadah, lemah-lembut. Ia disukai dan disegani banyak orang.

Dia adalah orang yang sempurna. Ia memiliki hubungan sosial yang sempurna. Ia memiliki keluarga yang sempurna, orang tua yang sempurna, sahabat yang sempurna, pacar yang sempurna.

Dia adalah orang yang sempurna. Ia diterima di universitas unggulan, berangkat dengan kendaraan yang mewah, mengikuti kuliah dengan sungguh-sungguh, mendapat nilai yang sempurna, menjadi pemimpin gerakan mahasiswa, memiliki proyek penelitian dan memenangkan kompetisi internasional.

Dia adalah orang yang sempurna. Setiap tutur katanya menginspirasi banyak orang, setiap langkah kakinya membuat banyak orang ingin mengikutinya, setiap gerakannya tak lepas dari pandangan.

Dia adalah orang yang sempurna. Segala hal yang terjadi di sekitarnya selalu menyenangkan. Tak ada tekanan mental dan emosi dari siapapun. Tak ada satupun cobaan ataupun ujian yang pernah dihadapinya.

Dia adalah orang yang sempurna. Ia pendaki gunung yang ulung, seorang aktivis kemanusiaan, pemain biola yang tak tertandingi, pemain basket yang ditakuti lawannya, seorang calon ilmuwan besar.

Dia adalah orang yang sempurna. Segala tentang dirinya begitu sempurna. Segala hal yang ditemuinya begitu mudah dilaluinya. Dia tak pernah mengeluh, karena tak ada yang bisa dikeluhkan. Dia tak perlu memaksa dirinya untuk menjadi tegar karena dia tak perlu menjadi tegar, segala hal dalam hidupnya sudah pasti akan baik kepadanya. Dia tak tahu caranya bersedih karena tak ada hal yang dapat membuatnya bersedih. Dia tak perlu bersusah payah karena ia tahu segalanya sudah terlalu sempurna.

Dia bernama sempurna. Segala tentang dirinya begitu sempurna…

Apakah benar ia benar-benar sempurna?

Mustahil. Tak ada orang yang sempurna, bukan?

Dan apabila terlintas di pikiranmu bahwa kau pernah menemui orang seperti itu,atau bahkan kau merasa begitu sempurna, itu karena kau hanya terpaku pada kelebihan tanpa menyadari kekurangan yang ada.

Seandainya memang ada orang yang sempurna… aku rasa tak kan ada penulis yang mau menulis kisah tentangnya…
Read More
      edit

Monday, March 21, 2011

Published 10:41 PM by with 1 comment

Semester 2 - Be New, Be Better :)

Halo, Chyntia, apa kabar? Gimana semester 2 Anda di fakultas yang Anda cintai itu? Apakah ia baik pada Anda? *bertanya pada diri sendiri*

Pada hari pertama Semester 2, aku benar-benar melaksanakan niat : berjalan memasuki kampus dengan senyum lebar, mengucapkan salam pada teman-temanku dan berbagi keceriaan dengan mereka. Walaupun Senin itu kuliah pertama baru dimulai jam 9 pagi, aku dan Anny dateng jam 7 pagi dengan kepentingan ngurusin jadwal di krs-ku yang ‘melengse’ dan membagikan alat praktikum ke temen-temen. Yap, aku dan teman-teman se-doswal melakukan kesalahan massal akibat contekan ngisi krs (payah hzzzz -.-).Dan yap juga, aku dan Anny jadi pemasok alat-alat praktikum Kimia Analisis dan Botani Farmasi. Jadi, pagi-pagi kita nongkrong di pintu timur untuk ngatur sedemikian rupa logistik-pecah-belah tersebut.

And the-very-usual days has been started again… o owh, it’s more than semester I. And I don’t know why I’m so nervous, my heart beats faster as I’m a new student and that’s my-really-first day in campus. *PLAK* Hey, sadar! Lu udah mahasiswa semester 2! Udah menclok di sini selama 6 bulan, merasakan keras-lunaknya kehidupan di tempat ini dan sekarang lu nggak punya hak untuk deg-degan lagi.

Sebenernya aku sangat sangat bahagia bisa ketemu sama temen-temenku setelah sekian lama kita terpisahkan oleh liburan yang membentang (uwooo…), tapi kalo ketemu sama dosen dan laboran… gimana yaa *tahan napas, ngabayangin zat pereaksi tiba-tiba meledak dan bentakan dosen yang bikin salting*

Jadwal pertama kelas C adalah praktikum Botani Farmasi I, tapi ternyata nggak ada praktikum hari itu. Acara pun diganti dengan temu kangen temen-temen sekelas di tangga lab Botani Farmasi. Fiuuhh… Allah tau aku belum sepenuhnya ikhlas meninggalkan liburan dan masih ketar-ketir sama semester 2. Makanya, Ia memberikan dispensasi, biar deg-deganku di hari pertama itu ilang dulu.

Okay, kembali saya tegaskan pada diri sendiri, “Aku bisa, pasti bisa! Innallaha ma’ana”

Aku pun sadar, ada beberapa hal yang harus diubah biar aku lebih siap sedia setiap saat seperti deodorant dalam menjalani semester dua yang duasyat ini.

Yeah, aku harus berubah dan aku ingin berubah. Aku butuh perubahan untuk menjadi lebih baik. Apa-apa yang sedang ingin saya rubah (eh, aku manusia lho, bukan rubah)…

Satu : NIAT.

Aku sudah sepakat dengan diriku, aku mau MENUNTUT ILMU SEBANYAK-BANYAKNYA, menjadi orang seintelek-inteleknya, menggali informasi tentang bidangku sedalam-dalamnya, bukan MENGEJAR NILAI A ples ples dan terobsesi dengan IPK perfect. Lillahi ta’ala.

Yah, memang ada keinginan untuk memperbaiki IPK, tapi tidak dengan cara lama seperti menyusun strategi contekan pas ujian, bikin rangkuman portable di dalem tempat pensil, mencemaskan ujian yang tinggal sehari dan lain sebagainya (pengakuan publik nih, hehe)… Yaah, pokoknya yang penting ilmunya dulu deh. :)

Dua : BAGI WAKTU.


Aku melepaskan kerja part time-ku sebagai ‘orang yang mencerdaskan anak bangsa’, nggak mengikuti jejak Rizal yang part time job-nya makin banyak, say no to tawaran ngelesin bocah selama semester 2 ini… demi apa? demi waktu yang bergulir di sampingkuuu, maafkanlah dirikuuu (lhoh, malah nyanyi), tapi beneran, demi waktu… demi waktu belajar, ngerjain tugas dan organisasi yang lebih banyak.

Aku punya 24 jam sehari. Aku akan menggunakannya se-optimal mungkin, dengan indikator keberhasilan : semua kerjaan beres dan on time, waktu tidur cukup, maag nggak kambuh dan masih ada waktu luang untuk hang out dan nonton Doraemon. Pasti bisa, kan?

Aku pun ganti profesi dari tentor menjadi ENTERPRENEUR. Aksi pertamaku di semester dua ini adalah memasok alat-alat praktikum ke temen-temen sekelas. Partnerku kali ini adalah Anny, terus Iin ikutan jualan sarung tangan. Dan yang namanya mahasiswa, persaingan bisnis susah dihentikan. Di kelas laen juga banyak yang jualan, tapi aku dan Anny tetep maju tak gentar donk. Hahaha. Alhamdulillah, aksi kita dalam berbisnis kali ini lumayan menghasilkan. Terus habis itu, Rizal ikutan bisnis juga, jualan buku Vogel Kimia Analisis dan ISO, tapi tetep nggak melepaskan kerja part time-nya. Ternyata dia lebih gigih daripada aku. Ckckck.

Dan sehubungan dengan bisnis baru ini, aku jadi ngelupain bisnis slayer, rok dan kerudung yang dulu. Sebenernya itu bisnisannya si Elli sih, aku tinggal terima komisi kalo bisa ngejualin. Sori yaa, bro, aku lagi seru-serunya bisnis baru nih. Ntar kalo udah nggak ada bisnisan lagi, aku jual slayer lagi deh. xp

Tiga : SIKAP DAN SIFAT

Udah semester dua, meen… Udah nggak jamannya lagi cari cara untuk menghindari mata kuliah yang nggak disukai. Udah nggak jamannya lagi cari-cari alesan yang enggak-enggak untuk hal-hal yang enggak-enggak. Mulai bertanggung jawab pada diri sendiri lah pokoknya.

Apalagi yaa..

Hemm, mata udah kriyep-kriyep minta ditutup nih, padahal masih jam 11. Ini gara-gara tadi kuliah Kimia Fisik sampe jam setengah 6 dan kemaren malem tidur cuma 3 jam sebelum Subuh. Makanya sekarang waktunya tepar. -.-

Oke, kapan-kapan lagi deh diterusin… tapi nggak tau kapan. Susah ngeluangin waktunya. T.T

Well, have a wonderful semester 2, Chyntia. Cheer up, Chyntia! Cheer up everybody!
Read More
      edit

Friday, March 18, 2011

Published 11:34 PM by with 0 comment

YANG PERTAMA, YANG DIINGAT

PRAKTIKUM BOTANI FARMASI I

Latihan I : Mengamati preparat sayatan melintang dan membujur gabus kulit batang Quercus suber (Fagaceae) dan sayatan melintang endokarpium Cocos nucifera (Arecaceae)

Aku (lagi-lagi) kebagian meja praktikum di depan, sebelahan sama Dita. Sebenernya udah nggak terlalu buntu sama praktikum ini, soalnya malemnya udah puas melototin diktat petunjuk praktikum, tapi dagdigdugnya masih berasaaa banget. Aku sendiri juga heran, puluhan kali pengalaman berkutat di lab ternyata nggak bisa meredam detak jantungku yang kelewat kenceng ini.

Di 5 menit awal praktikum, setelah penjelasan teknis cara pake mikroskop, aku ngintipin preparat jadi dan langsung nemu gambarnya, nuansa warnanya pink.

Bu Mangestuti : Kalau sudah ketemu, bisa langsung digambar. Pake hati nggambarnya, biar bagus!

Aku : (nyeletuk dalam hati : wah, hati saya lagi patah nih, Bu. Saya nggak tega ngerautnya. Pake pensil 2B aja yaa, Bu..)

Bu Mangestuti : (ikutan ngintip di mikroskopku) kurang fokus ini, ayo diputer-puter tombol mikronya biar fokus.

Aku : iyaa, Bu (muter-muter tombol mikro, tapi malah burem gambarnya)
30 menit berjalan. Sekarang waktunya ngamatin tempurung kelapa (endokarpium), tapi preparatnya bikin sendiri, bukan preparat jadi.

Dan aku beruntung.

Bu Mangestuti : (ngintip di mikroskopku) wah, buuaguus ini gambarnya. Ayo semua lihat di sini. (manggil mahasiswa lainnya) Selnya masih muda yang ini, noktahnya ada yang belum tertutup sempurna. Lengkap banget.

Temen-temen laen langsung ngefans sama preparatku. Hahaha.

Pas ngumpulin gambar ke Bu Mangestuti, harus ngantri dulu. Gambarku diliatin Dani.

Dani : Koq apik?

Aku : Kan nggambarnya pake hati. Hehehe.

Dani : (ketawa cekikikan yang ditahan-tahan)

Nah, tiba giliranku ngumpulin.

Bu Mangestuti : Bagus… bagus… Gambarnya siapa ini?

Aku : Gambar hati saya, eh, gambar saya, Bu.

Bu Mangestuti : Bagus… Pinter nggambar… (menandatangani kertas gambarku)

Aku : (mbatin : Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya ada juga yang bilang gambarku bagus.
Seorang Bu Mangestuti pula yang bilang. Guru Kesenian pas sekolah aja nggak pernah komentar gitu ke aku)

Hatiku langsung berbunga-bunga dan nggak jadi patah. Hahahahaha.

Rasanya pengen nunjukin gambar itu ke Dimas, orang yang dulu suka ngehina-hina gambarku.
*langsung sombong*

KIMIA FISIK

Kuliahnya jam 1 siang di RK 3.2. Waktu itu aku sama Iin datengnya on time, jam 1 tet, beberapa menit sebelum dosennya masuk. Begitu buka pintu ruangan…

Aku : Lhoh, nggak salah ta, In? (shock liat kelas udah penuh sama kakak angkatan 2008)

Iin : Bener koq, itu lho ada anak-anak kelas kita.

Maka dengan wajah takjub kita berdua masuk ruangan. Celingak-celinguk nyari kursi kosong dan nyari makhluk-makhluk 2010 yang keselip di antara puluhan anak-anak 2008 yang badannya gede-gede.

Aku : Jadi berasa kita ikutan kuliahnya angkatan 2008 ya, bukan angkatan 2008 yang ikut kita.

Aku, Iin dan anak-anak laen yang tadinya bangga dateng on time (karena biasanya telat, hehe) jadi dongkol setengah mati. Terutama aku. Udah dapet duduk di baris paling belakang, mas-mas 2008 yang ikutan kelas ini badannya gede-gede. Aku harus pake kacamata dan duduk tegak terus jadinya.

Aku terus menggerutu panjang-pendek sambil nyari-nyari kacamata di dasar tas. Pengennya sih teriak keras-keras, “Mas-mas, mbak-mbak… pindah belakang sanaaaaa… ngalah donk sama adek tingkat yang badannya kecil iniiii!!!” Tapi mana berani. Dipelototin aja palingan udah mengkeret. Peace, bro and sist :p

HARI KAMIS PERTAMA

07.00-11.50 : ANATOMI-HISTOLOGI, PERILAKU MANUSIA

13.00-16.50 : KIMIA ANALISIS PRAKTIKUM (diakhiri dengan wajah ngenes dan hampir nangis karena dari 8 praktikum, cuma selese 3)

17.15-20.30 : RAPAT FARMA POS

21.00-21.30 : NGEPRINT SLIDE BUAT BESOKNYA

21.30-21.50 : SHOLAT ISYA’

22.00 : BACA KOMIK DETEKTIF CONAN SELEMBAR LALU TEPAAARR!
Read More
      edit

Wednesday, March 2, 2011

Published 9:53 PM by with 1 comment

Di Penghujung Liburan

Liburan bentar lagi selesai. Besok krs-an dan segera dimulailah SEMESTER 2. Jeng jeng jeeeng. Apa yang akan terjadi dengan semester 2?

Waktu chat sama Richad barusan, dia ngedektein daftar mata kuliah semester 2. Ada Botani Farmasi… Ada Kimia Analisis… Ada Anatomi dan Histori... (eh, bener nggak ya? -.-), dan laen-laennya yang namanya pada aneh semua. Bikin kuping gatel dan susye diingetnya. *garukgarukkuping. Kayaknya gatel gara-gara nggak pernah dibersihin deh yaa. Hehehe. *yeeek.

Selama ini aku rada sensitif kalo ditanyain nilai dan IPK. Habisnya IPK ku nggak keren-keren amat sih. Dan aku rada sewot sama Kimia Dasar. Waktu yang keluar cuma nilai kuliah doank, KimDas ku dapet A, tapi begitu digabungin sama nilai Praktikum, nggak jadi A… Hueeee.

Tapi nggak apa lah… emang aku nggak pernah minta nilai baik atau sempurna kepada Allah. Kalo berdoa, yang aku mohonkan cuma, “pokoknya jangan Kau buat Mamaku kecewa, Ya Allah… cuma itu yang aku mau, sisanya teserah Engkau. Aku tau Kau selalu memberikanku yang terbaik.

Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Pemurah :’)

Sebenernya bukan cuma masalah sektor akademik aja yang melayang-layang di dalem otakku ini, tapi juga sektor keuangan. Seperti yang kita ketaui, ini udah di ujung liburan… dan uang yang terkumpul dari kerja part time dan segala macem bisnis selama liburan ini ternyata hanya sepersekian dari uang SPP saya selama satu semester. Dan seperbaaanyaak dari uang IKOMA saya. Aaaahhh… Bayangkan itu! Bayangkaaan! (apasih nih orang heboh sendiri)

Kesimpulannya, cari uang itu nggak segampang nyabutin bunga melati dari pohonnya. Ckckck.

Entah sampe kapan aku akan terus menggantungkan biaya hidup pada orang tuaku satu-satunya itu. Sebenernya Mama udah bilang sih,”Jangan ngoyo, money doesn’t matter, nak. Rekening tabunganmu insyaallah akan terus direfill koq. Kuliah yang bener dulu!”

Hmmm, iyaiya, aku kuliahnya bener koq, tapi ya nggak bisa begitu terus donk, Mak. Aku terus memutar otak untuk mencari alternatif biaya lain. Kalo beasiswa sih, udah aku kejar terus, nggak rela ketinggalan sedikitpun. :p

Ohya, ada satu lagi yang belum kelar diurusin : proposal kegiatan hidup! Nggak tau nih kapan kelarnya.. Susah ngeluangin waktunya. Hehe.

Ah sudahlah, mari kita sambut semester 2 dengan semangat baru!

Pokoknya waktu hari pertama kuliah nanti, aku akan berjalan memasuki kampus dengan senyum lebar, mengucapkan salam pada teman-temanku dan berbagi keceriaan dengan mereka.

Semangaaaat! Hap hap hap! :D
Read More
      edit
Published 8:03 PM by with 0 comment

Dulu Peserta, Sekarang Panitia


Pertama kalinya aku melangkah memasuki gedung Fakultas Farmasi bukan ketika aku menjadi mahasiswa baru dengan seragam putih-putih kayak petugas upacara, tapi ketika aku jadi peserta Olimpiade Farmasi 2009. Dan waktu itu masih tak terbayangkan kalo aku bakalan jadi panitia acara nasional itu dua tahun kemudian.

Kartu Pesertaku, sudah lecek yaa..

Waktu bertugas di meja registrasi semifinal dan final Olfar 2011 kemaren, aku sempet mengamati wajah anak-anak SMA yang berkeliaran di sekitar. Pagi-pagi mereka udah kruyuk-kruyuk di sekitarku. Walaupun mereka pinter-pinter, atau bahkan jenius, rata-rata ekspresi mereka masih kayak anak-anak SMA pada umumnya, cengengesan. Para semifinalis yang datang dari 18 kota ini kebanyakan nginep di asrama kampus C, jadi mereka nyampek Farmasi rame-rame dan langsung maen keroyok di meja registrasi.

Dulu aku nggak seberuntung mereka. Jangankan sampe di babak semifinal, pas selekda aja udah koit dengan skor minus banyak. Dua rekanku, Pitung dan Putri frustasi dan bawaannya pengen ngumpat sepenuh hati begitu ngeliat nomor tim kita ada di lembar paling bawah di papan pengumuman, sedangkan aku buru-buru ngumpetin kartu peserta di dasar tas, takut ada yang tau kalo tim yang skornya hina itu adalah kita. Harga diri euy. Hahaha.

Ketika aku berperan sebagai panitia, sebenernya aku rada iri sama anak-anak jenius itu. Makan apa sih mereka koq bisa sangar gitu? Apalagi waktu di babak final. Aku, Ulya, Faisal dan beberapa temen laen yang ngintip di pintu berdecak kagum ngeliat mereka balapan mencet bel dan ngejawab pertanyaan dengan benar. Padahal kita aja kadang nggak paham sama pertanyaannya, sekalipun bisa nebak, jawaban kita ngasal banget… (eh, jangan terlalu jujur donk):p

Oh iya, aku mendadak inget beberapa kegokilan yang terjadi selama semifinal-final.

Misalnya, pagi-pagi pas semifinal, ada peserta yang ngadu kalo cardigannya ilang. Waktu mas-mas panitia nanyain ciri-cirinya, dia jawabnya lengkap banget, “warnanya abu-abu, sizenya M, merknya Sophie Martin”.

Haah? Merk? Emang merknya segede apa sih?

Rasanya keluar keringet segede jagung di belakang kepalaku (kayak di kartun-kartun gitu deeh).

Ada juga kehebohan yang disebabkan mbak-mbak KSK yang dapet kecengan baru yang mirip Raditya Dika. Ngecenginnya niat bangeeet,sampe disearch namanya di Facebook dan fotonya di sertifikat peserta diembat. Mereka sempet mikir kalo dia adeknya Raditya Dika beneran. Tapi kan adeknya Dika yang cowok cuma satu yaa, yang namanya Edgar. Dan untungnya brondong SMA dari Jakarta yang jadi korban kecengan bersama itu namanya bukan Edgar.

Sementara itu, aku dan Ulya, sebagai adek-adek KSK, juga nggak mau kalah. Kita dapet kecengan anak Bandung. Tapi sebenernya kita nggak ngecengin orangnya sih. Malah ngecengin seragamnya yang keren dan bikin iri itu. Yang cewek seragamnya kaos putih, dilapisi cardigan merah, rok merah kotak-kotak, sedangkan yang cowok seragamnya kaos merah berkerah polosan (cuma ada lambang sekolahnya kecil di dada, bendera Indonesia dan bendera Turki di punggungnya) dan celana item. Huwoo, kenapa seragam gue waktu SMA dulu nggak dibikin keren gitu sih? *.*

Dan kita ketawa ngakak nggak abis-abis waktu ngeliat foto gokil dua orang peserta. Yang satu cewek, kalo nggak salah dari Malang, fotonya narsis, pake helm dan anglenya dari samping. Keliatan banget diedit pake photoscape. Yang satunya lagi cowok, dari Blitar. Fotonya kayak fotomodel, nggak nguati banget pokoknya. Dua foto itu kita ketawain selama dua hari, dan ternyata cowok yang fotonya aduhai itu lolos ke babak final dan berhasil mencapai posisi runner-up. Wah wah, bawa hoki ternyata yaa. Hahaha.

Belom lagi ngakak waktu liat mbak-mbak panitia itu joget-joget ala Smash pas di basecamp, nge-rap, dan apalah segala macem.

Babak final diakhiri dengan pengumuman juara. Nggak tau kenapa, aku ikutan terharu waktu juara I nya diumumin. Padahal bukan aku yang menang. Mungkin karena aku ngeliat orang lain berhasil meraih impian yang nggak bisa aku raih yaa. Hiks. (Lhoh, koq jadi sedih?)

Semua berakhir setelah evaluasi setelah Final sampe jam 8 malem. Aku notulennya, dan berhasil bikin resume yang nggak kalah rapi kayak laporan Fisika. Penting nggak sih. Hehehe.

Dan ketika aku pulang setelah evaluasi Final, jalanan rame banget sama anak-anak muda (eh, aku juga masih muda kali’ yaa -.-). Ya Tuhan, ini satnite. Dan aku menghabiskannya di kampus, lalu melintasi jalanan dengan masih pake jaket almamater. Keliatan aneh dan kontras mungkin yaa. Tapi so what gitu lhooh. Itu lebih berarti daripada satnite yang dihabiskan untuk berhura-hura. Hwehehehe.

Taraaa... id card panitiaku :3
Read More
      edit
Published 7:36 PM by with 0 comment

Aku dan Selekda Olfar 2011 di Kediri

*kali ini saya menulis tentang suatu event dengan gaya bahasa saya sendiri, dalam subjektifitas saya sendiri dan untuk blog saya sendiri, bukan untuk rubrik ‘event’. Hehe.*

20 Februari 2011. Pagi-pagi sekali, ketika jejak matahari yang terlihat hanya guratan-guratan jingga di langit biru muda tak berawan, saya berangkat dari rumah saya di Nganjuk menuju ke SMA Negeri 1 Kediri. Jauh sih emang, tapi nggak apa-apa lah demi Olimpiade Farmasi. Hehe. Dengan mata masih mengerjap-ngerjap menahan kantuk dan hati dongkol karena harus bangun pagi, saya masuk juga ke mobil dan berangkat diantar Mama dan Om saya.

Ya, sebagai anggota Panitia Pusat, aku dideportasi ke Kediri untuk bantuin panitia daerah setempat. Awalnya aku merencanakan untuk nginep di rumah temen atau sodara di Kediri malam sebelumnya, tapi berhubung rumah di Nganjuk ternyata sedang kekurangan penghuni (adekku lagi ada latihan Paskibra di luar kota dan nginep), akhirnya aku memutuskan untuk nemenin Mama aja di rumah – dan ngeberantakin kamar adek sepuasnya. Huahahaha.

*Mikir-mikir, enaknya pake saya atau aku atau gue?*

Beberapa hari sebelumnya aku sempet cakar-cakar bantal karena nggak dapet kabar apa-apa dari panitia daerah, padahal panitia daerah laennya udah briefing. Jangan-jangan nggak jadi ditugasin di Kediri nih gue. Ya udah, malah seneng bisa liburan. Hahaha. Tapi akhirnya aku nanya-nanya Novi, temen yang anggota Panda Kediri, dan dia ngasih tau tentang tugasku di selekda.

“Cin, tugasmu jaga ruangan sama koreksi jawaban ya. Besok dateng jam 6, ada briefing pengawas ruang.”

Okee deh, jaga ruang. Nggak sekalian aja jaga kuburan? Hehe.

Coba si Novi bilangnya gini,

“Cin, kamu nggak dapet tugas apa-apa koq. Jadi kamu liburan aja, nggak usah ikutan selekda.”

Bersorak bahagia mungkin ya aku. Hahaha.

Tapi nggak ding, enakan ikut selekda deh pokoknya. :p

Esoknya, dengan setengah berlari melewati meja absensi, aku memakai jaket almamater. Mbak-mbak di meja absensi langsung nunjukin arah base camp. Palingan mbak itu bingung, ini anak siapa tiba-tiba muncul di sini? Terus jaket almamater punya siapa itu yang dipinjem? Hihi.

Tapi masih untung nggak ditanyain, "Dek, registrasi dulu ya... Bawa bukti pembayaran uang pendaftarannya nggak?"

Hahaha.

Begitu dikasih amplop gede berisikan soal dan nanya banyaaaaakk hal ke mbak-mbak yang menempatkan aku di ruang 7 (habisnya briefingnya rada nggak jelas sih, atau akunya yang nggak mudeng. Hehe), aku siap berangkat ke ruangan bareng temen-temen lainnya.

Sewaktu nungguin Kiki dan Okky siap-siap, aku sempet merenung memandangi lembar absen di atas amplop yang aku pegang. Soal udah, lembar absen peserta udah, notes udah, id card udah. Aku mengerjap-ngerjap lagi (antara masih ngantuk dan mikir). Apa ya yang kurang?

Lho yaa, lupa nggak bawa pulpen! Mau ngisi berita acara pake apa ntar? *pegang jidat* Dan parahnya, temen-temen panitia pada bawa pulpen satu-satu semua, nggak ada yang lebih. Beh, pulpen di sini harganya mahal kali ya, ngalah-ngalahin cabe, makanya mereka cuma punya sebiji-sebiji.

“Cari aja di kolong-kolong, biasanya ada.” usul Kiki. Bener juga. Aku mulai menyidak kolong-kolong meja di ruang kelas yang dijadiin base camp. Satu-satunya pulpen yang bisa ditemukan kondisinya cuil di sana-sini, tapi lumayan masih bisa dipake. Wah, murid-murid penghuni kelas ini nggak kayak penghuni kelasku waktu SMA dulu ternyata. Aku dulu sih kalo pulpen ilang, langsung melongok di kolong meja bentar pasti nemu yang lain. Beneran deh kayaknya, pulpen di sini harganya mahal, nggak ada yang tega nyia-nyiain. Ckckck.

Nah sampe di ruang 7, aku membuka pintunya kuat-kuat. Harus kuat-kuat, karena pintunya seret, besar dan berat, nggak sinkron sama ukuran badanku. Tangan yang bisa diberdayakan tinggal satu pula (yang satunya pegang amplop soal). Aku sampe terengah-engah habis buka sebelah daun pintu. Lalu dilanjutkan buka yang satu lagi. Hgggghh… nggak bisa. Terengah-engah lagi. Ya udahlah, biarin, daripada aku pingsan ntar.

Setelah sok mengecek ruangan (dan akhirnya nemu pulpen yang berkualitas), aku duduk-duduk di luar. Ruang-ruang di sebelahku ternyata juga dijaga sama non-panda. Mereka juga sama-sama berada di luar ruangan, celingak-celinguk nunggu ada yang lewat dan ngasih tau kapan dimulainya tes, persis kayak kuda nunggu aba-aba lari dari koboi.

Tiba-tiba ada peserta yang ngajak aku ngobrol dengan logat bahasa daerah kental dan agak terlalu bersemangat yang bikin kupingku gatel.

Peserta : Mbak, ki mulaine jam piro te? (tauk ah, nggak bisa nulisnya. Pokoknya aku ngerti dia nanyain jam berapa mulainya)

Aku : Jam delapan, dek. (pake bahasa Indonesia yang baik dan benar, bingung ngikutin logatnya dia)

Peserta : Tros bare jam piro? (artinya, terus selesenya jam berapa?)

Aku : Jam 1, jam 2 an lah kira-kira.

Peserta : Lheeh, kok suwimen to mbak? Tes e bar jam piro to sakjane? (sampai di sini aku agak lama mikir translatenya dan senyum-senyum nggak jelas di depan adeknya)

Aku : Ya soalnya nanti sama nunggu pengumuman yang lolos ke semifinal juga dek. Udah, ikutin aja. Seru koq acaranya nanti. Oke?

Peserta : (Pasang ekspresi merengut yang menyebalkan) Aku neng kene sampek jam 1 ngono? Yaaah…

Aku (mbatin) : Aseem, mbokkirakno sing nang kene cuma kon tok ta dek? Haaah? Gak usah kakean gaya kon. Hzzzz…

Peserta : Neg ngundang S***H (nama boyband baru di Indonesia) ngono aku seneng neng kene sampe jam 1. (terus dia nyerocos tentang boyband itu)

Aku : (keinget cercaan temen-temen tentang boyband itu di grup Facebook kapan hari dan ingin mewujudkannya di depan fansnya sekarang ini) Ehm… di sini deket pasar nggak, dek?

Peserta : Nggak ngerti, Mbak. Kenapa?

Aku : Aku mau nyari tomat busuk di pasar kalo semisal beneran ada S***H di sini. (sambil ngeloyor pergi dengan kuping hampir meleleh).

Suer, baru kali itu aku yang baik hati ini (hehe) bisa ngejutekin orang sampe segitunya. Akibat belum sarapan kali’ ya. Coba ada si Riky di sana, aku bisa ganti profesi jadi wasit perang mulut antara Riky dan anak itu. Sama-sama lebainya sih.

Tapi aku nggak berani cerita ke anak-anak panda waktu itu, takut bales dijutekin. Hahaha.

Sudah sudah. Stop talking about that thing.

Beberapa saat kemudian, seorang PJ lapangan ngasih tau kapan dibagiin soal dan kapan boleh mengerjakan soal. Lalu balik lagi setelah muter-muter ke seluruh ruangan untuk nyocokin jam. Kasian dia olahraga sendirian, sampe ngos-ngosan waktu ngomong.

Setelah mengedarkan daftar absen peserta, aku maen fb lewat hp, ngegosip di status fb sama Novi yang jaga di ruang 13. Sesekali ada panitia-panitia laen datang berkunjung untuk ngasih tau ralat atau konsumsi yang sisa harap dibawa ke base camp. Selebihnya, aku merutuki kesalahan bodoh yang aku buat di berita acara. Untung ternyata berita acara itu nggak guna. -.-

Ini komen terakhirnya Novi waktu aku nanya tentang kondisi ruangannya :

“Di sini sedang galau menunggu bel selesai tes… dan penuh asap.”

Hah? Penuh asap? Koq bisa? Apa jangan-jangan ada peserta yang bakar kertas soal saking frustasinya? Tragisnyaaa…

Pas di basecamp, dia baru bilang, “Iya, asapnya muncul dari kepala adek-adeknya gara-gara mikir jawaban soal yang susah itu!”

Ohh, gitu… Lebih tragis lagi ternyata. Sabar yaa dek, dunia memang kejam… (apasih -.-“)


wajah ngenes para peserta di depanku :p


Setelah tes berakhir, aku langsung ngoreksi di basecamp. Dijadwalkan koreksi selesai jam 1 siang, tapi ternyata kita berhasil nyelesein sebelum jam 11.

“Sssssssaaangaaarrr…” begitu komentar (atau desisan) pak koor begitu tau berita gembira itu.

Job saya selanjutnya adalah membantu apapun yang bisa saya bantu. Ngangkatin makanan ke aula, menghadang peserta yang mencoba kabur dari aula, bagiin makanan ke peserta, bagiin sertifikat, bersihin sampah di aula, ngabisin kue agar-agar dan lemper di basecamp (keburu basi kalo nggak dimakan :p), terus ngebalikin kursi ke kelas-kelas, dan ketawa ngakak ngeliat mas-masnya maen trolly-trollyan dan kereta-keretaan pake kursi yang dijajar memanjang kayak trolly di supermarket. Untung waktu itu udah sepi, nggak ada anak SMA yang ngeliat.

Waktu nganggur, basecamp serasa berubah jadi diskotik. Hahaha. Aku, Kiki dan Novi nyetel mp3 keras-keras dari laptop sambil nyanyi-nyanyi. Walaupun cuma apal reff nya aja, yang penting bisa pamer suara jeh. Sementara anak-anak laennya sibuk nonton video dance Korea, ngabisin konsumsi dan maen poker.

And then… aku pulang dalam kondisi sangat memprihatinkan – kumus-kumus, lemes dan ngantuk, tapi entah kenapa masih juga mau menyisakan tenaga untuk tersenyum puas dan bangga :’) (mulai deh dramatisnyaaa).

Dan melalui pengamatan sekilas, sepertinya saya juga melihat senyum puas yang sama di wajah temen-temen lain sewaktu evaluasi di akhir acara. Aura kelegaan dan sorakan batin karena telah menunaikan amanah pun terasa menggema di ruangan.

Yaah kira-kira begitulah kisah saya dalam Selekda Olfar di Kediri.

Dua hari kemudian, setelah efek remuk redam lumayan berkurang, saya segera kembali ke Surabaya untuk kembali bertugas sebagai Sie Kesekretariatan di Semifinal dan Final.

Congrats buat semua panitia Olfar 2011. Semua lelah dan perjuangan kalian telah terbayar lunas dengan acara-acara puncak yang bisa dikategorikan sukses, baik di daerah maupun di pusat.

Yes, we got it… Ite inflammate Scientia!
Read More
      edit
Published 7:11 PM by with 0 comment

Hidup Adalah Pilihan, Begitu Juga Dengan Kuliah


Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan kuliah.

Kau memilih untuk kuliah, lalu kau berjuang dengan segala cara agar bisa kuliah.

Kau memilih suatu jurusan dan giat belajar dan mencoba berbagai jalan untuk bisa diterima di sana, lalu kau diterima.

Atau kau memilih suatu jurusan, namun kau tidak berusaha untuk diterima, lalu kau benar-benar tidak diterima.

Kau berhasil diterima di jurusan itu, lalu kau memilih untuk bertahan di sana, meskipun di awal kau telah menyadari betapa kerasnya jurusan itu.

Kau memiih untuk menjalani masa transisimu (pengkaderan, ospek dan sebagainya) dan tidak mencoba kabur, lalu kau diterima di lingkungan barumu.

Kau memilih untuk mengikuti kuliah hari ini, meski suntuk dan susah mengerti namun kau tetap serius menyimak, lalu kau hanya memberi catatan-catatan kecil di sudut diktatmu yang tidak sepenuhnya kau pahami.

Atau kau memilih untuk nonton film bioskop hari ini dan meninggalkan kuliahmu, lalu kau ketinggalan materi kuliah (dan semakin tidak mengerti) tapi menonton film yang baru premier tersebut.

Kau memilih untuk belajar, mendobrak ketidakmengertianmu di ruang kuliah, lalu kau mengerti.

Kau memilih untuk belajar lebih tekun, terobsesi dengan ilmu pengetahuan dan nilai bagus, lalu kau mendapatkannya.

Atau kau memilih untuk bermain-main dengan kuliahmu, tidak belajar dan tidak menginginkan nilai bagus, lalu kau benar-benar tidak mendapatkannya.

Kau memilih untuk berlelah-lelah dalam menjalani hidupmu, lalu kau merasakan manisnya hidup setelah lelah berjuang. (diambil dari bait kedua mahzab Imam Syafi’i)

Kau memilih untuk santai dalam menjalani hidupmu, lalu kau benar-benar seperti tak memiliki beban apapun dan tak pernah merasakan manisnya hidup seperti yang dirasakan orang-orang yang lelah.

Kau memilih untuk bermimpi, berjuang melebihi batas lelahmu untuknya, lalu kau meraihnya.
Hidup adalah pilihan, Pilihan diikuti oleh usaha. Usaha menentukan konsekuensi yang akan didapatkan oleh si pemilih, sebagai feedback atas usahanya. Kau punya hak untuk memilih. Memilihlah, dan serahkan pilihan itu pada Tuhanmu. Ia Maha Tahu pilihan mana yang sebenarnya terbaik untukmu, hamba-Nya yang telah berani menentukan pilihan dalam hidupnya. Mungkin suatu saat kau salah memilih dan terjatuh dalam konsekuensi yang tidak kau sukai, tapi percayalah, ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Tetaplah merasa aman dan kembalilah memilih. Pecayalah bahwa dirimu telah menentukan suatu pilihan yang benar, tapi biarkan Allah yang membenahi semuanya, hingga yang kau dapatkan adalah yang paling baik dan benar untukmu.

Read More
      edit