Friday, December 10, 2021

Published 3:38 PM by with 0 comment

Menurut Kamu?

*latepost 

Hello.

Sorry that today I’m about to be sharp.


Aku kepikiran mengenai fenomena di dunia virtual belakangan ini, khususnya tentang influencer muda yang bertalenta, pintar, cerdas dan sekuler, yang kayaknya hampir semua anak muda mengenalnya. Kapan hari dia menjawab pertanyaan “menurut kamu, nikah beda agama itu gimana?”, dan kurasa dia kurang bijak menjawabnya. Sebelumnya dia juga melontarkan pendapat tentang childfree, yang juga kurang bijak. Sebenarnya, ini lebih mikirin mereka yang kena influence-nya, ya.


Aku pernah menjadi seperti mereka sekitar 15 tahun yang lalu. Saat itu belum ada instagram, tapi sebagai anak yang ingin melihat dunia lebih luas, aku ‘bermain’ di dunia virtual juga. Bagiku, yang paling keren saat itu adalah milis. Di sana kita bisa melihat banyak orang dengan minat yang sama saling melempar ide dan merespon. Aku bergabung dengan milis yang isinya penulis-penulis muslim se-Indonesia.


Mengenal pemikiran banyak orang membuatku overwhelmed. Sebagai anak yang cukup sering merasa kesepian di luar jam sekolah, aku menikmati cara berteman secara virtual ini. Dan tentu saja, muncul kekaguman pada beberapa tokoh di sana.


Saat itu aku juga berada pada fase clueless. Aku mempertanyakan banyak hal tanpa tau siapa yang tepat untuk ditanyai. Mungkin istilah jadulnya ‘mencari jati diri’. Aku juga suka menemukan bahasan hal-hal kontroversial, memperdebatkan hal remeh sampai penting, tak suka dibatas-batasi. Apakah sama dengan para follower si influencer itu yang saat ini masih berusia belasan tahun?


Aku pernah melempar pertanyaan ke milis mengenai mengapa tak boleh saling menyontek saat ujian walaupun dengan asas mau sama mau. Naif sekali, bukan?


Coba bayangkan apabila aku bertanya pada orang yang mempunyai value “Benar salah itu relatif aja. Tidak ada yang paling benar. Kalau menurut aku benar, ya aku lakukan, kalau menurutmu salah, ya jangan kamu lakukan.”, mungkin jawabannya akan begini, “Kalau menurut aku, itu gapapa, selama yang saling menyontek paham konsekuensinya. Yang penting dikomunikasikan. (emoticon senyum kelihatan gigi).”


Beruntungnya, saat itu aku berada di milis yang tepat, yang tidak memiliki value demikian. Orang-orang di milis ini jauh dari kata sekuler dan “sembrono”.


Jawaban yang kudapatkan saat itu kira-kira begini, “Kita tak bisa menormalisasi kesalahan yang umum terjadi. Menilai benar-salah atas suatu hal mestinya dari kacamata Tuhan, karenai pengetahuan dan pandangan manusia serba terbatas. Kita terbias oleh banyak faktor. Oleh karena itu, apapun pilihan yang kita punya, pedoman kita tetaplah aturan Tuhan”. Jadi kuncinya bukan “menurut aku” dan “yang penting dikomunikasikan”.


Aku butuh waktu lama sekali untuk mencerna jawaban tersebut, dan tidak puas karena itu bukan jawaban yang kuinginkan. Beberapa tahun kemudian, saat aku menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang saat ini, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk akhirat kelak, aku akhirnya tahu bahwa itulah jawaban yang kubutuhkan.


Kukira jika aku mendapat sanggahan dari adik-adik usia remaja, bunyinya akan seperti ini,


“Memangnya tidak boleh menyatakan pendapat menurut aku sendiri?”


“Boleh dong. Media sosial memang bisa menjadi tempat bertukar pendapat.”


Aku tidak bilang influencer itu salah karena berpendapat. Hanya saja, pendapatnya lebih mendekatkan kita pada keburukan daripada kebaikan karena dasar pemikirannya yang sekuler. Kita harus peka terhadap hal seperti itu. Dan tentu saja, aku berharap dia lebih bisa membedakan mana pendapat yang harus bernas pada referensi yang jelas, dan mana yang boleh free talking aja. Begitulah tanggung jawab seorang influencer, I believe.


Ingat dik, umat Islam harus bangga dengan identitasnya, tidak boleh ikut-ikutan sekuler. (Lah, jadi kayak bapak2 id).


Pendapatnya harus kita perlakukan seperti informasi apapun yang berseliweran di monitor kita. Tidak bisa ditelan mentah-mentah dan harus dikroscek dengan ahlinya. Begitulah tanggung jawab follower ya, dik, apalagi kita tahu betul dia bukan pakarnya.


Jadi aku sangat memaklumi jiwa muda nan curious karena aku juga pernah seperti itu, namun juga ingin sekali mewanti-wanti agar kalian menajamkan intuisi pada kebenaran. Kudoakan banyak-banyak agar Tuhan membawa kalian bertemu dengan guru kehidupan yang baik dan menjauhkan dari segala pengaruh buruk yang menghancurkan peradaban.


Read More
      edit