Showing posts with label semangat. Show all posts
Showing posts with label semangat. Show all posts

Tuesday, August 3, 2010

Published 10:11 PM by with 0 comment

FUTURE DIARY

Someday – on the way to Paris
Dear diary…

Hari ini berjalan sangat cepat bagiku, secepat kereta listrik yang membawaku ke jantung kota Paris sekarang.

Paris?

Ya, Paris! Akhirnya aku akan segera menjejakkan kakiku di negeri impianku itu beberapa menit lagi. Yiihaaa!!! Watchout, Paris, mon cher!

Dan itu artinya aku harus menyiapkan French dictionary yang lama terabaikan di dasar backpack-ku.

Well, banyak yang ingin aku ceritakan hari ini. Dengar baik-baik.

Penelitianku tentang obat . . . . (belum tau) akhirnya selesai beberapa minggu yang lalu dengan hasil memuaskan. Saat aku mempresentasikan laporanku di depan dewan persidangan, aku berhasil membuat seluruh hadirin berdecak kagum dan bahkan beberapa doctor tak segan memberikan standing-upclause untukku. Hak paten atas obat itu pun jatuh di tanganku. Subhanallah walhamdulillah. Terima kasih, Allah. Segala puji bagi-Mu.

Setelah usai persidangan, aku kembali ke laboratorium bersama rekan-rekan kerja LIPI dengan hati puas. Sorakan kemenangan memenuhi laboratorium tempat kami bekerja hari itu. Bahkan sepertinya tunas-tunas kultur jaringan di sudut ruangan ikut bersorak bersama kami. Hahaha.
Betapa senangnya aku, akhirnya aku bisa mempersembahkan suatu karya untuk dunia.

Tapi perayaan itu cuma berlangsung beberapa jam. Kemudian kami kembali bekerja secara normal seperti biasanya.

Keesokan paginya, aku berkutat dengan bahan-bahan kimia obat yang diserahkan ke lab untuk diteliti, lalu siangnya aku menyempatkan diri ke apotek dan laboratorium kesehatanku untuk melakukan pengecekan bahan-bahan di sana. Ternyata masih cukup lengkap, jadi aku nggak perlu pesan apa-apa dulu.

Ada lagi kejutannya. Novelku jadi best-seller di Indonesia dan menerima award Novel Terpuji Nasional. Alhamdulillah. Royalti pun dinaikkan beberapa kali lipat dari sebelumnya. Dan aku telah menghibahkan sebagian untuk pendirian organisasi pengembangan anak islami yang aku kelola bersama teman-teman SMA-ku. Aku nggak terjun langsung dalam prosesnya, tapi cuma sekedar memberikan bantuan jika diperlukan.

Oh ya, aku juga sempat berkumpul bersama teman-teman SMA sebelum aku berangkat keliling dunia. Seperti biasa, kami melepas kerinduan kami satu sama lain dengan saling bercerita. Hebatnya, kami semua punya cerita yang membanggakan. Seperti yang aku inginkan dulu, kita akhirnya bertemu lagi dengan membawa keberhasilan kita masing-masing. Yeah, kita semua berhasil dengan jalan yang kita tempuh, kawan. Subhanallah.

Aku sudah sangat merindukan mereka.

Wajah dan penampilan mereka memang berubah. Mereka tampak seperti orang dewasa yang tangguh saat ini, bukan lagi anak SMA yang bandel. Kita sudah jadi bapak-bapak dan ibu-ibu rupanya. Hahaha. Tapi cara mereka tertawa, bercanda dan berbicara masih tetap seperti dulu. Hangat, ceria dan apa adanya.

Yah, bagiku, mereka tetap sahabat-sahabat paling hebat yang pernah ada.

Terima kasih, Tuhan…Engkau telah mendengarkan dan mewujudkan impian kami.

Tiada hentinya aku bersyukur pada-Mu.

Dan saat ini, aku memuaskan hasrat petualanganku dengan keliling dunia. Memang benar kata orang, perjalanan mengajarimu banyak hal tentang kehidupan. Aku merasakannya sekarang.

Dan pelajaran nomor satu adalah : Aku tak menyesal pernah bermimpi setinggi-tingginya.

Perjalanan ini sebenarnya tanpa rencana. Awalnya, aku cuma ke Oxford untuk seleksi beasiswa post-doctoral ku. Namun ternyata Tuhan merencanakan sesuatu yang lebih dari rencanaku. Aku bertemu seorang teman lama di London yang mengajakku berlibur ke Afrika. Dan dengan cerita yang lumayan rumit, akhirnya kami nggak cuma menjelajah Afrika, tapi juga Eropa, Amerika dan Asia. Bener-bener gokil!

Sejauh ini aku telah melintasi 4 benua di dunia. Aku telah singgah di berbagai negeri orang, mulai dari yang terpuruk sampai yang high-tech banget. Dan aku bertemu beberapa backpacker dari Indonesia di benua Eropa yang sedang aku jelajahi ini. Aku mengenali mereka dari slayer merah putih yang selalu terikat di lengan kanan mereka. Entah sejak kapan, para backpacker Indonesia selalu saling mengingatkan untuk menjaga rasa nasionalismenya. Salah satu caranya dengan menggunakan slayer di lengan ini.

Aku sempat mengunjungi tempat tinggal impianku, kota Vancouver – Canada. Aku menetap berhari-hari di sana. Aku janji, suatu hari nanti aku akan mempunyai rumah di kota mewah itu.

Aku juga mengikuti acara pertemuan para blogger di sebuah hotel di Berlin-Jerman. Sebenarnya aku nggak sengaja ikutan acara ini. Seorang teman di Switzerland mengajakku untuk ikut serta menemaninya datang ke pertemuan itu. Dia nggak tau kalo aku juga penulis dan blogger di negaraku. Akhirnya aku ikut dan mendapat pengalaman seru ngobrol dengan para blogger dari seluruh dunia. Asli deh, blog mereka keren abis. And you know what, akkhirnya blogku bisa go international berkat bantuan mereka. Wow! Merci beaucoup, les amies!

Well, Paris udah dekat. Aku harus segera bersiap-siap untuk turun.

Bonsoir, Paris. Enchante :)

(Allah, plis baca posting hambaMu ini. Engkau tertawakan pun tak apa-apa, aku tau Engkau pasti mewujudkannya dengan caraMu. Amin)
Read More
      edit

Tuesday, July 20, 2010

Published 7:59 PM by with 0 comment

Haha Huhu Pengumuman SNMPTN

Hey, pengumuman SNMPTN 2010 yang ditunggu-tunggu udah keluar!

Pertama kali keluar di internet, tepatnya di web snmptn punya UNAIR sore tanggal 16 Juni kemaren. Terus habis itu malemnya disusul pengumuman dari situs resminya snmptn. Dan besok paginya, daftar nama peserta yang diterima berjubel memenuhi halaman Sportivo koran Jawa Pos.

You know what, evening on July 16th is both a great and bad evening! Let’s see how impressive it was…

Yeah, aku emang nggak lolos snmptn. Nggak apa-apa, aku udah bisa meredam rasa kecewaku. Aku ngerti rasanya nggak keterima sebelumnya, makanya aku nggak shock. Toh aku pantas mendapatkannya, soalnya kalo diinget-inget, perjuanganku untuk snmptn cemen bangetngetnget. Nggak ada apa-apanya dibandingin temen-temen laen.

So, I’d say, I’m alright still.

Yeah, I’m alright… (nada nggak yakin)

Okay, I was just a little MISERABLE! I regret to myself. When the others studied hard day and night, why did I took it easy anyway? Why why why? Damn!

Aaah, Forget it.

Satu hal yang bikin aku merasa bangga pada diriku sendiri saat itu adalah : AKU NGGAK NANGIS!

Sungguh, aku nggak nangis. Aku menguasai hatiku sendiri, aku membesarkan hatiku sendiri, aku menahan sakitku sendiri. Aku sama sekali nggak merasakan ada air mata di pelupuk mataku.

Yaah, kayaknya treatment kegagalan yang diberikan Allah dulu berhasil membuat aku semakin tegar. Thanks, Allah. The Greatest God.

Bahkan aku bisa menghibur mereka yang belum keterima dengan berpura-pura ngerasa baik-baik aja, seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi gimanapun aku ikutan sedih. Aku binguuuung harus bilang apa ke mereka selain “Sabar yaa… Aku ngerti kok gimana rasanya gagal, sakit emang. Tapi nggak boleh putus asa. Ayo bangkit! Kamu pasti bisa! Masih buanyak jalan laen.” Menghibur nggak sih?

Semoga ini juga merupakan treatment kegagalan buat mereka.

Bahkan (lagi) aku bisa ikutan seneeeeeng banget ngeliat update status temen-temen di Facebook yang mengabarkan kalo mereka keterima. Wuah, seakan-akan aku yang keterima. Alhamdulillah. Subhanallah. Seneng lah pokoknya begitu tau keinginan mereka kesampaian, apalagi perjuangan mereka nggak main-main. Semua itu udah cukup untuk bikin aku bersujud syukur setelah shalat Isya’, mengucap semua puji syukur tak terkira-kira.

Apalagi kalo inget perjuangan temen-temen yang gagal berkali-kali sebelum akhirnya keterima lewat snmptn ini. Ada seorang temenku yang sebelumnya nggak keterima sampe 10x dan dia nggak nyerah, bo! Liat aja, akhirnya Allah menyudahinya di snmptn ini. Hahaha. Wah, ikut seeeneeeeng deh (kayaknya dia lagi baca posting ini sambil senyum-senyum).

Subhanallah.

Sekarang percaya kan, sebenernya Allah itu sayaaang banget sama hamba-Nya.

Allah telah membayar perjuangan dan pengorbanan kalian secara tunai hari itu. Selamat yaa…

Nah, sekarang waktunya mensyukuri apa yang telah aku dapatkan. Nggak boleh lagi iri sama mereka yang sukses menembus Sasing, IT-ITS atau FK-UNAIR. Meskipun ngenes nggak bisa meraihnya seperti yang aku harapkan. Haaassh…

Dan kesimpulannya, nggak ada jurusan lain yang mau nerima aku selain Farmasi UNAIR! Hadeeh, bukan karena aku dianggep bego sama jurusan dan universitas lain, tapi emang tempatku di situ. Kalo jodoh nggak kemana kok. (Lhoh?)

Ternyata Allah memang memilihkan aku Farmasi UNAIR, yang dulu aku dapet lewat jalur PMDK Prestasi, jalur paling murah, sama kayak snmptn tapi saingannya lebih sangar daripada snmptn. Grade jurusannya tinggi pula. Wuah, udah keren banget itu, bikin lo makin keren aja…hahaha (mencari cara untuk menghibur diri).

Bersyukur! Kamu lebih senior 2 bulan daripada yang lewat jalur snmptn dan beberapa minggu daripada yang lewat jalur pmdk umum.

Bersyukur! Kamu adalah satu dari 46 orang beruntung di PMDK Prestasi.

Alhamdulillahhirabbilalamiin.

Trus gimana nasibnya mimpi-mimpi gilaku itu?

Oh meen, apa lagi sih yang kamu pikirin? Percaya donk! Allah nggak lupa sama mimpi-mimpimu kok. Ya masuk Farmasi ini jalan menuju impianmu. Kamu nggak bakal bisa nebak kemana Allah akan mengarahkanmu langkahmu. Ikuti ajalah alur ceritanya. Let it flow, Chyntia. Ok?

Ya ya ya, sekiranya kayak gitulah suara dalam hatiku sekarang ini.

Okay, sekali lagi selamat buat yang udah keterima. Kalian memenangkan apa yang kalian mau. Kalian hebat. Salute to you, pals.

Kalian boleh berbangga diri, kalian masuk universitas dengan jalur yang terhormat. Semua orang berdecak kagum sama kalian. Dan ibu-ibu kalian bakalan ceramah gini ke adek-adek yang bandel, “Contoh tuh kakak. Udah pinter, nurut, rajin, bisa masuk jurusan bla bla bla lewat jalur snmptn, bikin bangga ibuk bapak…” Hahaha, gaya emak-emak jaman sekarang.

Buat yang belum keterima, jangan nyerah. La Tahzan, innallaha ma’ana. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Terus berusaha sekuat tenaga dan berdoa sepenuh hati yaa. Insyaallah kalian sedang dibimbing menuju jalan terbaik. Cheers up! :)

Mau berbagi pengalaman tentang jatuh bangun Anda? Kasih tau saya yaa…

Satu dua tiga… sukses semuanyaaa (nyanyi maksudnya)


Read More
      edit

Wednesday, June 30, 2010

Published 10:45 AM by with 0 comment

When I was Down and Troubled

(Ceritaku tentang Proses Jatuh Bangun Menghadapi PMDK-PMDK Universitas)

Everything’s going surprisingly
There was a time when I was down and began to cry
There was a time when I had to get up from the failure
That’s the time I know that life is not easy anymore…


Ini cerita tentang keterpurukan dan kerapuhan hati seorang anak usia tanggung yang waktu itu masih umur 16 tahun. Ceritanya tentang kegagalan, keberhasilan dan perjuangan yang menggemparrrkaaann… (halah, opo ae)

Sebenernya aku udah berkali-kali ngerasain gagal, tapi nggak seberapa ngerasain sih, soalnya cuma kegagalan-kegagalan kecil yang nggak sudi bikin aku down. Kayak gini contohnya: nem waktu SMP kalah bagus sama temen-temen sekelas; gagal nawar harga barang di pusat perbelanjaan (gara-gara nawar nggak pake aturan.haha); gagal nyontek; gagal bikin kue; gagal nyampek ke tempat tujuan (a.k.a nyasar); gagal koneksi internet; sampe gagal ngirim sms (kehabisan pulsa). Bener-bener kegagalan-kegagalan nggak penting. Kalo dibikin daftar kegagalan, mungkin panjangnya sama kayak jembatan Suramadu (perkiraan ngawur).

Ada satu pengalaman tentang kegagalan yang masih aku inget. Begini ceritanya..

Waktu itu aku dan temen-temen kelas XII lainnya memasuki semester 6 yang merupakan semester akhir di SMA. Berarti udah waktunya kita siap-siap menghadapi UNAS dan menentukan pilihan jurusan kita di kuliah nantinya. Saat itu pula kita mulai sibuk daftar PMDK ini dan itu. Aku sendiri daftar PMDK Prestasi Universitas S, B dan A. Itulah mengapa aku jadi sering ngeksis di BK, TU dan ruang guru untuk ngurusin rapor yang merupakan syarat utama daftar PMDK. Tiap hari aku bolak-balik ke ruang-ruang penting itu buat minta keterangan peringkat di wali kelas, surat keterangan, legalisir rapor dan piagam, atau sekedar ngadem di ruang ber-AC (hehehe). Selain itu juga harus daftar online, bayar di bank, bla bla bla. Berkas-berkas PMDK pun segera dikirim secara kolektif dari sekolah.


Perjuangan tak berhenti sampe di sana. Aku harus ikut tesnya Universitas A dan S, kalo B sih enak nggak pake tes. Yang paling awal tes tulis dan wawancara S. Kebetulan jurusan yang aku pilih adalah Pendidikan Bahasa Inggris, makanya selain tes TPA, ada juga tes reading&grammar, yang jadi momok adalah TES WAWANCARA. Brrr...apalagi beberapa saat sebelum tes ada orang geje bilang tes wawancaranya ntar speech alias pidato dalam bahasa Inggris. Wow, kejutan! Jangankan pidato, tanya-jawab biasa aja aku gelagapan. Tapi ternyata itu cuma kabar geje dari orang geje. Nggak ada speech, cuma ditanyain hal-hal yang remeh-temeh kayak anak SD.

Dan saat pengumuman hasil tes PMDK S...

Aku nggak keterima. Devi dan Injar yang keterima. Hari itu juga, aku cabut ke kantor BAAK sebuah institut, ngumpulin berkas PMDK Reguler yang menjadi cadangan selanjutnya. Seingetku setelah ngumpulin berkas sama Devi, kita langsung ke sekolah. Aku lupa waktu itu hari apa, pokoknya temen-temen di kelas lagi nyantai banget. Anak-anak cowok malah asyik maen di rumah Ocid, tinggal beberapa doank yang masih bertahan di kelas.

Aku menampakkan ekspresi suramku. Dengan suara kayak anak kecil merajuk minta permen kayak biasanya, aku curhat ke semua orang yang ada. ”Aku nggak keterimaaa..”. Tapi aku masih bisa ketawa ngeliat cara Dharu nyemangatin. Dia pura-pura telpon di depanku sambil nyalah-nyalahin S gara-gara nggak nerima aku dengan gayanya yang khas. Gyahahaha. Dan dengan yakin anak itu bilang,”udah, nyante aja. Tempatmu di A kamu itu.” Hggh, as my logic works, sifat pesimis mulai mendominasi. “Yang ini aja kagak keterima, apalagi yang standarnya lebih tinggi?!” begitulah aku berpikir.


Nggak cuma Dharu. Ada Putri yang bilang dengan sok santai, ”berarti bukan takdirnya di S.” Padahal dia sendiri juga nggak keterima. Trus Deny yang sejak awal punya feeling aku nggak keterima di sana pun ngasih semangat setelah aku melampiaskan kekesalanku. Hahaha. Dimas malah bilang, ”udah ah, nggak usah dipikirin” (grrr, gimana bisa nggak dipikirin??)

Aku cukup down – tapi masih ”cukup”, belum ”sangat”. Masih ada sisa-sisa prasangka baik dalam hati.

Next stop : PMDK Prestasi B.

Sejak seminggu setelah pendaftaran, aku nggak berminat lagi dengan universitas itu karena uang pangkalnya tak seperti yang aku bayangkan. Mahal euy. Padahal udah jalur PMDK paling murah di sana. Apalagi B lokasinya di luar kota Surabaya dan pamornya juga nggak seberapa cling. Apalagi jurusan yang aku pilih masih baru, nggak ada akreditasinya. Apalagi aku daftarnya secara ilegal tanpa restu keluarga. Apalagi tanda tangan ortu di formulir pendaftaran aku palsuin (hehe, damai… aku jangan dimarain yaa). Apalagi…. Apalagi… (banyak banget apalaginya). Tapi gimanapun, aku masih berharap.

Dan pengumuman B pun segera terbit di internet.

Waktu pengumuman di internet itu ada, aku dan teman-teman masih di sibuk Ujian Akhir Semester 6 (kalo nggak salah). Aku, Monta, Windy, Devi ngeliat pengumuman itu lewat hpnya Monta pas istirahat. Hasilnya... Monta keterima di Perikanan, Windy keterima di Agribisnis, Devi keterima (lagi) di Agroekoteknologi dan Maya keterima di Kedokteran Hewan. Sedangkan aku? Nggak keterima lagi...

Ok, I was trying to look so fine in my friends and family’s seeing, but it was definitely NOT FINE when I was fallin’ in front of Allah.

Aku down. Aku mulai menganggap ini semua nggak adil buatku. Dengan arogan aku mulai mempertanyakan, “kurang apa nilai-nilaiku dibandingkan mereka yang keterima itu?” Cih, jujur banget aku nulisnya di sini. Hehehe. Tapi sejak itu, meskipun masih sering protes dan nggak terima, aku belajar untuk ikhlas menerima apapun keputusan yang diberikan Allah untukku. Dan diam-diam aku memutus hubungan dengan mimpi-mimpiku (ouh, dalem bangeet kata-katanya).

Satu hal yang aku tau : gagal itu sakiiitt.

Last stop : PMDK Prestasi A.

Dari beberapa PMDK yang aku ikuti, yang ini nih yang paling prestisious. Yang boleh ikut cuma yang ranking 5 besar di kelas dan yang punya prestasi.

Step 1 : Seleksi Administratif. Ah, gampang lolosnya. Yang penting memenuhi syarat yang barusan aku sebutin tadi, lolos deh.

Step 2 : Ujian tulis. Duoorrr, ini nih yang seyem. Saingannya nggak maen-maen, terutama di pilihan jurusan favorit kayak Kedokteran dan Akuntansi.

So, how did I do?

Pra-tes…

Aku ngurusin segala tetek bengek pendaftaran ujian tulis bareng Ben. Aku pilih IPC, sama kayak Ben (ikut-ikut aja). Nggak gampang bagiku menentukan pilihan jurusan ke-1 sampe 4. Akhirnya, karena aku ngikutin saran Mama, pilihan pertamaku Farmasi. Padahal aku ngebet banget sama Sasing waktu itu, tapi aku taruh pilihan kedua.

Nggak gampang juga bagiku untuk bangkit dari kegagalan-kegagalan sebelumnya. Masih berasa sakitnya. Aku mulai gentar sama Ujian Tulis A. Rasanya kepalaku berkabut kalo kepikiran masalah ini. Bolak-balik ke BK buat curhat pun nggak ngefek, malah dihantui sama kenyataan bahwa peluangnya dikiiit banget buat keterima di A. Untung aku punya pemandu sorak terbaik di dunia, yang selalu siap menyemangati aku, yaitu sahabat-sahabatku :D

Aku menjadi sangat down kira-kira seminggu sebelum tes. Aku minder liat keyakinan anak-anak lain yang juga ikut PMDK ini. Hampir tiap malem aku berdoa sampe sujud-sujud kepada Allah. Total waktu berdoa dalam sehari mengalahkan waktu belajarku. Mataku sembap kayak zombie gara-gara kebanyakan nangis bombay dan kurang tidur. Tapi aku mulai menikmati alur cerita yang dibikinin Allah ini. Aku menikmati begadang tiap malem selama seminggu; nggak mikirin Ujian Sekolah yang waktu itu lagi booming (cuma mengandalkan contekan dan google); belajar soal-soal SNMPTN pertama kalinya, IPC pula; dan mata yang kayak zombie itu pun membuat aku semakin menarik (hoek).

Dan, tahukah Anda? Cheerleaders-ku beraksi di saat-saat kejatuhanku itu. Aku curhat lewat sms, lengkap dengan ”hiks hiks” dan emoticon nangis yang mendramatisir. Mereka pun menanggapinya dengan dramatis pula. Hehehe. Ada Lidya, Leli, Ateng, Dharu, dan kawan-kawan lainnya yang gembar-gembor nyemangatin anak hopeless stadium akhir ini. Apapun yang mereka katakan, intinya mereka yakin kalo aku pasti bisa! Aku heran, kok bisa seyakin itu yaa? Aku sendiri nggak yakin bakal keterima. Padahal mereka juga tau ada yang lebih tekun dan rajin belajarnya daripada aku untuk mempersiapkan tes A ini. Tapi mereka tetep yakin. Itulah yang bikin aku terharu dan bersyukur memiliki mereka. Akhirnya aku bertekad untuk membuktikan keyakinan mereka! Huahahahahahahaha (tawa setan).

Pasca tes...

Aku bener-bener ngerasain PASRAH setelah tes. Sungguh, pasrah yang nggak dibuat-buat. Hatiku plong. Aku nggak berdoa sambil merajuk-rajuk rada maksa lagi, tapi aku pasrah... apapun hasilnya aku terima. Aku dengan gampang melupakan soal-soal gak masuk akal itu. Bahkan aku nggak peduli waktu ada yang pamerin kebisaannya dalam tes kemaren.

The miracle of Allah works...

Sore itu, tiga hari setelah tes, aku kebangun dari tidur siangku karena sms dari Ben. Isinya ngasih tau kalo hasil tes A udah ada di websitenya. Ben belum liat, tapi aku disuruh liat duluan. Aku yang masih belum bangkit dari hopeless saat itu terpaksa nyuekin smsnya. Dalam hati aku jawab, “ntar aja, masih ngantuk”. Lalu tidur lagi. Then, Monta sms. Isinya kira-kira begini, “Chyn, kmu ktrima Universitas A-nya, tp Farmasi”. Aku langsung melotot. Kali ini nggak aku cuekin. “Sumpe lo?” gitu balesku. Setelah sumpe-sumpe, baru aku meloncat bangun dari kasur meski kaki masih sakit habis ujian praktek lari di KONI, lalu nyalain leptop, konek ke internet, dan… Monta bener. Subhanallah… Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah! Akhirnya ada universitas yang mau nerima aku. Universitas A pula. Bukan main… Ucapan congrats pun berdatangan dari mana-mana. Sungguh keberhasilan yang manis.

Jadi inget sebaris syairnya Imam Syafi’i...

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berusaha.

Yaah, kira-kira begitulah pengalaman saya seputar kegagalan. Dari pengalaman itulah saya jadi lebih tabah dan tau cara menyemangati orang lain yang jatuh dalam kegagalan. Maap artikelnya kepanjangan, semoga tetap inspiring buat Anda. Hehehe.

Terima kasih untuk sahabat-sahabatku. Kalian adalah cheerleaders terbaik di dunia. Walaupun kalian nggak bisa bikin formasi piramid yang keren, kalian tetep paling top deh pokoknya. Cheers up!

Jangan takut gagal! Salam Super!


Read More
      edit