Thursday, January 27, 2011

Published 2:05 PM by with 1 comment

Obrolan Malam Itu

Aku terdiam memandangi langit malam yang gelap seperti tinta gurita, menunggu angin berhembus tapi tak juga datang. Di samping rumah, anak-anak tetangga sedang krik krik adem ayem tak bersuara (lagi belajar kali ya, kan besok sekolah). Jadi intinya malam itu cukup hening bagi seseorang yang tidak terbiasa dengan suasana sepi seperti aku. Dan tentu saja, ada aura “ayo jadilah mellow” yang ditebarkan suasana sepi itu -.-“. Itulah mengapa aku nggak suka sepi.

Satu-satunya suara yang terdengar adalah lagu A Twist In My Story-nya Secondhand Serenade yang mendayu-dayu dari playlist laptop. Lagu ini pun ternyata tidak mampu mengajak hatiku untuk mellow juga. Alhamdulillah, lagi cerah ceria hati ini, nggak sinkron sama warna langit.

Hpku bunyi, seperti biasa, sms masuuuk. Seorang temen bernama Dharu yang sms, mau maen ke rumah. Setelah sms ini-itu mbulet kayak biasanya, akhirnya dia berangkat juga. Perlu diketahui, Dharu ini salah satu sahabat saya yang rada sableng plus lebai. Sebenernya dulu heran juga, koq bisa ya saya nemu orang modelnya kayak gini, hidup pula. Hahaha.

Aku tungguin anak itu di teras rumah lantai dua. Nggak lama, kira-kira setelah music player-ku muter 2 lagu, idungnya Dharu keliatan melintas di jalan depan rumah.

And as always, aku melacur (melakukan curhat) tentang banyak hal dramatis yang terjadi selama ini, selama kita nggak pernah ketemu karena dia kuliah di luar kota.

And as always juga, tanggepannya selalu lebai. Hmmm… bukan Dharu namanya kalo nggak lebai. Semacem ini…

“Hah? Sialan banget sih cewek ini (maksudnya aku), kalo ngomong mbok ya dipikir! Tega kamu ngomong gitu ke dia… (dilanjutkan dengan “gerutukan” yang puanjaaang nggak pake titik koma)”

Aku nyengir-nyengir kucing. (emang kucing bisa nyengir?)

And as always (lagi), kalo curhat ke dia, aku selalu dalam posisi salah. Hzzz, tapi nggak apa-apa. Kalo dianggep bener terus, aku nggak bakal tau salahku dimana. Hohoho.

Di ending, wise-nya keluar dalam bentuk nasehat yang cukup baik. Sayangnya, aku dari dulu nggak cukup wise untuk nurutin kata-katanya.

“Kalo ada masalah kayak gini, nggak usah cerita ke dia. Kamu malah bikin dia makin panas ati.
Sama aja kayak kamu nyulut api. Bukannya kamu nyelesein masalah, malah makin gede masalahnya. Kalo ada apa-apa, cepetan cerita ke aku, atau Ben, atau Ageng. Terutama ke Ageng, kan Ageng temen sekelasmu, dia yang posisinya paling deket sama kamu! Cukup ke kita aja curhatnya.”

Meskipun aku menyangkal, mendebat dengan segala macem alesan, tapi sebenernya masih setuju juga, “Iya sih emang…” Dan menangkap makna sekilas ucapannya, “Jadi aku dititipin ke Ageng nih maksudnya? Hmmm… -.-”

Beberapa saat kemudian, bocah sableng yang satu lagi dateng. Namanya Erza, tapi lebih terkenal dengan sebutan Pitung. Dia dateng dengan masih pake jaket almamaternya, habis jadi panitia di acara kampusnya.

Nah, dua orang sableng berkumpul di rumahku, temu kangen dan siap-siap bikin keributan. Keheningan malam itu pecah berantakan. Diawali dengan Dharu yang maksa Pitung ngelepas jaketnya. Dia pengen foto dengan pake jaket almamater orang laen. Tapi Pitungnya nggak mau. Bilangnya, “Emoh, ini jaket masih baru.. nanti kena bolotmuu!!!” Hahaha. Ngakak banget.

Kita bertiga beda jurusan dan universitas. Mereka berdua jurusan teknik, sedangkan aku di Farmasi. Jadi waktu mereka menggebu-gebu ngomongin pengkaderan segala macem, aku nggak nyambung sama sekali.

Trus ngobrol dilanjutin ke sana kemari tanpa jeda, saling menimpali, sesekali teriak-teriak. Dan Pitung sok-sokan nunjukin pemrograman tekniknya di laptopku, bikin Dharu dan aku makin heboh.

Akhirnya mereka pulang pas udah berasa ngantuk dan capek ngobrol.

Dan aku pun kembali ke depan laptop, melanjutkan playlist yang tadi dan ngetik posting ini sambil menancapkan kata-kata penting dan bermakna dari obrolan tadi di otak.

Dan yang lebih penting, aku berjanji pada diriku sendiri, mulai saat ini aku nggak akan mengabaikan begitu saja nasehat orang-orang yang perhatian sama aku. Aku juga akan berusaha untuk nggak bertindak sembarangan dan mementingkan egoku sendiri. Ayo berpikir dewasa, Chyntia!!!

Thanks, Allah, for giving me the best people like them all. I love them. :)

Now playing : Warmess on The Soul – Avenged Sevenfold
      edit

1 comment:

  1. hai salam kenal, aku gungsri dari denpasar bali. btw nama kamu sama dengan nama temanku lho hihihi
    oya mampir2 ke blogku ya http://orionku.wordpress.com almt blogku :)

    ReplyDelete

yuuk komen yuuk . . .