Monday, February 9, 2015

Published 10:37 PM by with 0 comment

Serangan Pengendali Udara



Sore ini mendungnya membuat nyaman seperti biasa. Aku bersandar di kursi teras rumah. Sebenarnya tadi keluar tujuannya pengen ngelihat mas roti bakar di ujung jalan sudah buka lapak apa belum, eh malah duduk dan bengong. Saking bengongnya, ada truk lewat depan rumah hampir nabrak pagar aku masih diem aja, sampe sopirnya turun dan nutup pagar biar truknya bisa lewat. Rasanya ini pertama kali aku melihat dunia luar (alay). Setelah dua hari bersemedi di kamar ngerjakan esai ini itu, mendelik liat form ini itu sambil ngebatin macam-macam, akhirnya aku memutuskan untuk bangkit. Kali aja di luar sudah kiamat dan malaikat lupa nggak melongok ke tempat semediku. Sumpret dah, alay kebangetan.

Dan setelah serangkaian esai-esai yang kubuat demi bisa sekolah lagi, mungkin kini saatnya menulis yang ringan-ringan.

Kalau sudah memandang langit begini ini pikiran terpental kemana-mana, ke masa lalu, ke masa depan. *Yaela katanya mau nulis yang ringan-ringan aja, pikirannya lagi berat gitu. Mungkin memang yang ringan cuma berat badan gueh*

Mungkin ini bisa jadi semboyanku : di dalam tubuh yang ringan terdapat pikiran yang berat -,-
 
Sejak kejadian tak terlupakan di perjalanan pulang dari B29, hidupku seperti kena serangan pengendali udara berkali-kali. Ada aja yang bikin kaget, bikin pusing, bikin air mata keluar tanpa diperintah. So overall, i had hard days. Sebutin aja. Interview Ferron, ngurusin percepatan ijazah, berkas-berkas buat beasiswa, belum lagi urusan panitia suatu acara yang akan segera menghadirkan tugas bikin ini itu yang aneh-aneh. And you know, saat interview, interviewernya bisa bikin aku mikir mati-matian di sepanjang sisa hari itu. Dia bilang “ada sesuatu yang hilang dari diri kamu...” Duh apalah itu Pak. Kalau yang Anda maksud data di harddisk, Anda benar -,-

Oke sebenarnya biasa aja sih. Dulu pernah dua kali lebih rempong kehidupan ini, jaman-jaman amanah bertumpuk menjadi satu bersama kuliah dan ujian. Jadi nggak pantas mengeluh kalau cuma beginian.
Yang bikin berat sekarang adalah karena aku banyak mikir. Pernah nggak sih kamu berpikir macam gini, “kok rasanya jalan yang aku pilih, keputusan yang aku ambil, seringkali merupakan hal yang lumayan berat... dan orang lain sepertinya memilih jalan yang lebih mudah. Apa aku yang salah memilih atau memang harusnya begitu atau itu pandangan karena aku lagi iri aja ya?”

Dan kalau ada yang mempertanyakan kenapa aku ngebet banget pengen sekolah lagi begitu lulus program profesi, penjelasannya bisa panjang dan penuh idealisme.

I never expect my life is always taken for granted. Hanya terkadang aku takut salah mengambil keputusan untuk hidupku sendiri. Dan lebih takut lagi kalau salah dan tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya.

Daripada berlarut-larut, akhirnya keresahan ini kukembalikan pada yang paling berhak mengatur hidupku, Allah SWT. Biarlah Ia yang memberiku kekuatan untuk melawan para pengendali udara yang datang silih berganti ini.
      edit

0 komentar:

Post a Comment

yuuk komen yuuk . . .