Monday, July 11, 2011

Published 2:36 PM by with 0 comment

Ketika Ingin Menangis


Orang yang paling kuat di dunia ini pun terkadang masih ingin menangis ketika segala macam permasalahan ditimpakan kepadanya.

Nah kalo aku... mungkin belum bisa dibilang kuat dan tegar kayak tembok yang catnya melindungi dia biar tahan hujan dan panas, atau seperti tiang listrik di tengah deburan ombak di pantai abrasi (mulai ngelantur -.-“)

Tapi aku tau... aku secara otomatis akan mengalami proses upgrading kekuatan hati melalui serentetan gejolak-gejolak kehidupan yang indah ini (ceilee, Bahasa Latin dalam Resep aja belum apal, sok nyastra di sini :p).

Biarlah... biarlah sekaliii aja aku sok dramatis sekarang...

Yang aku nggak mau... aku terlihat lemah, aku terlihat sedih di hadapan kalian. Aku bukan diriku di masa SMA dulu, yang kalo ada apa-apa nggak bisa menyelesaikan sendiri. Option waktu SMA dulu ada dua. Satu, narik-narik lengan bajunya Dharu, Ben, Dimas dan orang-orang sejenisnya sambil terisak-isak (dan mereka kayaknya maklum banget). Dua, diam nggak melakukan apa-apa demi meredam emosi jiwa dan bikin orang-orang di sekitar gemes dan khawatir. Mungkin mereka mikirnya, koq ada ya orang lagi punya problem bukannya cepet-cepet diselesein malah cuek sebebek-bebeknya. Nah sekarang, aku ingin menyelesaikannya sendiri. Aku bisa menyelesaikannya sendiri.

Tapi aku juga bingung... harus menjawab seperti apa ketika diriku sendiri bertanya : harus kehilangan berapa banyak lagi? sampai kapan harus mengalah pada keadaan?

Dan ketika semuanya bertumpuk menjadi satu... air mata pun tak terbendung lagi di pelupuk. Dan hingga sekarang, mengadu kepada-Nya adalah sesuatu yang sangat mujarab untuk mengobati hati yang remuk. Maka kubiarkan air mata ini mengalir di atas sajadah.

Yang lebih pedih lagi... adalah ketika aku melihatnya terpuruk, mencoba bangkit sendiri tapi tak mampu, sedangkan tanganku tak mampu meraihnya. Menyesal, sungguh menyesal mengapa ujung jarinya terlalu jauh untuk diraih. Padahal dulu ia selalu bisa merengkuh bahuku. Bayangkan betapa kerasnya aku akan menangis. Ah, tidak, aku tidak ingin terlihat lemah di depannya, akan kutahan air mataku hingga aku menggelar kembali sajadahku.

Keep up, girl!

Udah ah, nggak enak juga kalo mellowyellow terus... *back to rock and roll*
      edit

0 komentar:

Post a Comment

yuuk komen yuuk . . .