Monday, September 16, 2013

Published 11:58 PM by with 0 comment

Balada Hilang

Jika boleh diakui, hati sudah menangis sejadi-jadinya. Teriris ribuan kali oleh rasa yang sama. Seakan tak belajar dari pengalaman, hingga segalanya menjadi seperti ini, menyisakan banyak tanya yang semakin menyesakkan dada.

Kau tau, jika boleh mengulang waktu, aku tak akan segan mencegah hati untuk memunggungi. Tak perlu memulai kisah. Tak perlu terpukau oleh kondisi. Aku bukannya menyesali kebahagiaan yang pernah terjadi, melainkan hanya menyesal karena terlalu larut dan tidak bisa menghalau diri untuk menjauh.

Kau tak pernah tau, betapa besarnya keberanian yang aku coba lepaskan saat itu. Betapa aku rela menomorduakan egoku hanya untuk membuka mataku, menatapmu. Aku sebenarnya takut. Sangat takut. Tapi aku begitu menghargaimu, mencoba melihatmu dari sisi yang membuatku tersenyum. Kalaupun aku ceritakan, kau tidak akan mengerti betapa takutnya aku.

Jika boleh diakui, aku sebenarnya tau bahwa aku akan meretakkan hati. Memaksanya mengambil resiko yang paling sukar dihadapinya : merasakan kehilangan. Membuatnya semakin lemah, bukan semakin kuat. Jika kau ingin tau, inilah mengapa aku membangun dinding yang mengurungku dari segala sisi, agar hati tak perlu menderita lagi untuk kesekian kalinya.


Di titik ini, sekali lagi, Allah mengajarkanku untuk sabar. Sabar atas takdirnya. Sabar atas apa yang akan Ia berikan selanjutnya. Sabar dan jangan takut. Hadapi dulu sekuat hati.

Aku akan sabar. Jika nanti keadaan sudah lebih baik, aku yakin hati akan sembuh seperti sedia kala - tersembuhkan oleh sabar.
      edit

0 komentar:

Post a Comment

yuuk komen yuuk . . .