Sunday, September 29, 2013

Published 1:50 PM by with 0 comment

Last Day in Istanbul (Late Post)



Jalanan di Fatih sudah ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan cepat. Kulirik jam di handphone yang kupegang. Sudah hampir pukul 10. Ah, pantas saja. Rata-rata jam kerja dimulai pukul 9 atau 10 pagi di sini. Aku melangkah di trotoar, berebut langkah dengan bule-bule yang selalu berjalan cepat. Abang penjual simit di pertigaan meriuhkan suasana dengan berteriak “bir lira, bir lira!”. “Satu lira, satu lira” yang merujuk pada harga roti simit, acma dan kawan-kawannya. Kalau saja belum sarapan, aku pasti sudah menghampirinya untuk membeli satu acma dan satu lagi jenis roti renyah yang aku lupa namanya. Tapi pagi ini aku sudah cukup bertenaga dengan dua bungkus energen yang diseduh dalam satu cangkir – ini terinspirasi dari Harris, teman semasa KKN yang kalau lapar bikin energen dua bungkus, dan memang mengenyangkan.

Matahari sepenggalah naik di belakangku, namun cahayanya sudah cukup menyilaukan mata. Aku pun menurunkan kacamata hitam yang selalu standby di atas kepala, sebuah kebiasaan baru sebulan terakhir karena mataku tidak pernah tahan dengan sinar matahari di sini. Terlalu silau. Pernah sekali kacamata itu ketinggalan, aku langsung minum panadol extra begitu pulang ke flat. Tiba-tiba angin dingin bertiup. Ku hentikan langkah sejenak karena takut rokku terangkat. Beberapa hari ini cukup dingin. Meskipun matahari begitu terik namun tidak dapat melawan dinginnya udara. Dua meter di depanku adalah gedung pemerintahan. Artinya aku masih harus berjalan 20 menit lagi untuk sampai di Ayasofia Eczane, tempat internship-ku. Aku memakai jaket, tak lupa menutup resletingnya dengan benar. Yah, sekarang aku selalu memakai jaket dengan benar seperti itu. Ini gara-gara Faisal yang dulu suka cerewet bukan main kalau aku tidak memakai jaket dengan benar.

Sekitar 10 menit berjalan, kakiku rasanya membeku. Kulihat tulisan berjalan di sudut kios, biasanya menunjukkan suhu, bergantian dengan beberapa tulisan lainnya. Dua puluh enam derajat celcius. Oh, yang benar saja. Kemarin dua puluh sembilan. Berarti suhu semakin turun. Ini sudah seperti di Malang atau Pacet. Kunaikkan kerah jaketku. Sekarang nafasku terengah-engah dan dingin. Aku melintasi halaman Istanbul Universitesi di mana burung-burung merpati hitam berkumpul mematuki makanan di tanah. Orang-orang, baik turis maupun penduduk lokal tak ada satupun yang terlihat kedinginan. Hanya aku.

“The weather is good. It’s not hot and not cold. It’s perfect..” kata Canan, homemate-ku, kemarin sore kami pergi ke Fatih Bazaar.

Batinku, perfect apaan? Gueh udah merinding kedinginan gini.

Aku terus menyusuri jalanan yang semakin ramai. Stasiun tramvay Beyazit sudah kulewati. Berarti tinggal melalui stasiun Cemberlitas dan Sultanahmed. Eczane-ku terletak tepat di samping stasiun tramvay Sultanahmed. Aku suka tiga kawasan ini. Beyazit yang selalu sibuk karena di sana ada Grand Bazaar, salah satu pasar terbesar di dunia. Cemberlitas yang di sana ada makam Sultan Mahmud II dan Burnt Column. Sultanahmed, tempat Blue Mosque dan Hagia Sophia yang terkenal di seluruh dunia. Di sepanjang jalan tiga kawasan itu, aku selalu mengawasi kurs dollar di setiap Change Office yang aku lewati. Pernah beberapa waktu yang lalu kurs dollar turun. Aku langsung menukarkan semua dollar-ku ke lira. Aku juga selalu membawa kabar tentang kurs setiap hari untuk roommate-ku, Tisa. Begitu kursnya menguntungkan, dia langsung menitipkan dollar atau euro-nya kepadaku untuk ditukar ke lira.

Tak terasa akhirnya aku sampai juga di Ayasofia Eczane. Tempat yang berkali-kali aku kunjungi dan meskipun aku sering bosan berada di sana, aku tetap saja senang kalau berhasil mencapai tempat itu. Mungkin karena perjalanan yang aku tempuh cukup jauh, hampir 40 menit jalan kaki setiap pagi. Di Surabaya mana pernah aku jalan kaki sejauh ini. Praktikum di FK saja naik motor. Ke Indomaret depan gang saja naik motor.

Günaydın!” sapaku begitu memasuki Eczane.

“Günaydın!” jawab Mehmet sambil mengangkat tangan dan tersenyum. Eczane masih lenggang. Staff yang lain masih nge-cay di ruang belakang. Cay, atau teh adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari negara dan rakyat di sini. Dari pagi-siang-malam, cay tak pernah dilupakan. Aku jadi ikut ketagihan cay selama tinggal di sini.

Lagi-lagi aku mendengar seseorang bilang, “the weather is good.”

Kulirik termometer ruangan di rak kosmetik. Dua puluh enam derajat celcius. Termometer itu letaknya hanya beberapa langkah dari pintu. Mungkin yang terukur suhu di luar, pikirku. Rasanya di dalam Eczane ini lebih hangat. Beberapa saat kemudian ramalan cuaca menyiarkan suhu di Istanbul akan mencapai dua puluh tiga derajat celcius, dan akan turun hujan. Aku berbalik ke arah pintu. Masih terang-benderang. Masa’ kayak gini bakal hujan? Mungkin ramalan cuacanya salah.

Menjelang siang, Merve yang sedang menata rak produk sabun memanggilku dan menunjuk keluar.

Hujan!

Dan masih tetap terik!

Ah, aku lupa. Hujan di Istanbul yang kulihat selalu seperti ini. Minggu lalu waktu pergi ke Eminonü dengan Tisa dan Meri, hujannya juga sejenis ini.

“Hujannya nggak akan lama dan nggak akan deras.” kata Meri waktu itu. Dan benar saja. Tidak sampai 15 menit, hujannya sudah pergi.

Kulihat turis-turis berlarian dari stasiun tramvay. Tangannya di atas kepala menghalau hujan.

“I like rain! C’mon, we can play in the rain!” aku terngiang-ngiang suara Amr saat kami berada di minibus dalam perjalanan ke Izmir dua minggu lalu. Saat itu hujan deras sekali dan kami hanya pasrah memandanginya lewat kaca minibus yang buram oleh air hujan.

“Yeah, I like playing with the raindrops!” sahutku bersemangat sambil memutar badan menghadap Amr.

Aku setengah ngelamun memandangi hujan. Menunggu kapan berhentinya. Karena bosan, aku kembali ke belakang counter. Kembali memperhatikan Abdullah, Mehmet dan Aliona beraksi melayani customer-customer yang kebanyakan turis itu. Kembali aku bosan. Kembali aku ke kursi di depan counter, tempat para customer biasa menunggu. Kembali aku bosan. Lalu aku mencari kegiatan lainnya. Begitulah setiap hari di Eczane ini. Bisa membantu melayani satu atau dua customer saja sudah senang sekali rasanya.

Tapi ada hal yang selalu kutancapkan dalam pikiran : cara berpikir Aliona dalam memutuskan obat. Ia salah satu Apoteker yang bertanggung jawab di sini. Walaupun kebanyakan aku kurang setuju dan kurang bisa mengerti kenapa dia memutuskan obat ini dan obat itu, aku tetap saja menyimaknya. Harus menyimaknya. Karena ini adalah terakhir kalinya aku bisa melakukan itu.

Esok aku sudah tak di sini lagi.

“When will your flight?” tanya Mr. Sedat sambil memegang cangkir cay-nya.

“Saturday, at 00.40, so I will go to airport on Friday night.” jawabku.

Ini semua seperti mimpi. Rasanya baru kemarin aku terbang ke tempat ini. Bertemu Vildan di airport dan kami naik kereta metro subway ke flatnya. Jet lag-nya sudah hilang, tetapi aku masih ingat sensasinya. Rasanya baru kemarin juga aku berbicara dengan Biljana, gadis Serbia yang menjadi partnerku di Eczane ini. Minggu lalu dia sudah kembali ke negaranya. Bahasa inggrisku sudah membaik, tetapi aku masih menertawakan diri kalau ingat betapa pendiamnya aku saat minggu pertama di sini. Sekarang sudah minggu keempat. Hampir dua puluh sembilan hari.

Dua puluh sembilan hari yang seperti mimpi, dan menjadi momen terwujudnya mimpi.

Aku terkadang masih tak percaya telah tiba di sini. Aku masih memandangi Blue Mosque dengan takjub meskipun sudah berkali-kali sholat di sana. Aku masih membawa kamera kemanapun aku pergi karena aku siap menemukan hal baru setiap hari.

Dan kini aku harus mengemasi lagi barang-barangku.

“Someday if you come back to Istanbul, we can spend time together, okay? We can eat and drink together.” kata Mr. Sedat ketika aku berpamitan. Ah, pharmacist-ku itu selalu baik dan ramah.

Aku mengangguk sambil mengulang-ulang ‘of course’ dan ‘definitely I will’. Hujan gerimis di luar sudah berhenti, dan kini berpindah tempat ke hatiku. Aku melangkah keluar Eczane untuk terakhir kali. Aku menyebrangi jalur tramvay dan mengeluarkan kamera. Mengambil gambar Ayasofia Eczane di antara keramaian Sultanahmed.

Daerah Sultanahmed tak pernah sepi, namun aku berharap masih ada tempat untuk aku menaruh hati padanya.

Ku pandangi lekat-lekat situs-situs bersejarah di sekitar sana. Ku ucapkan selamat tinggal.

Ketika kembali ke Fatih, aku tau aku akan merindukan semua ini. Merindukan Biljana, Chen, Amr, Ammar, Doaa, Vladan, Husna, Vildan, dan kawan-kawan lain yang kutemukan di kota ini. Merindukan Blue Mosque. Merindukan simit dan acma. Merindukan cahaya matahari yang menyilaukan. Merindukan Cosmo City. Merindukan Burak Apartment. Merindukan tramvay dan bus.

Merindukan Istanbul.

Rasa rindu itu berbaur dengan rasa syukur tak terkira.

Sekali lagi kulirik tulisan berjalan di sudut kios. Dua puluh tiga derajat celcius. Musim gugur dimulai. Dan perjalananku berakhir. Aku berjanji ini hanya sementara, lain waktu aku akan melanjutkannya lagi. Dunia masih terlalu luas untuk dijelajahi.

Güle güle, Istanbul. Tessekür ederim. Kau kini jadi kepingan hidupku yang berharga.


      edit

0 komentar:

Post a Comment

yuuk komen yuuk . . .