Monday, September 16, 2013

Published 11:58 PM by with 0 comment

Balada Hilang

Jika boleh diakui, hati sudah menangis sejadi-jadinya. Teriris ribuan kali oleh rasa yang sama. Seakan tak belajar dari pengalaman, hingga segalanya menjadi seperti ini, menyisakan banyak tanya yang semakin menyesakkan dada.

Kau tau, jika boleh mengulang waktu, aku tak akan segan mencegah hati untuk memunggungi. Tak perlu memulai kisah. Tak perlu terpukau oleh kondisi. Aku bukannya menyesali kebahagiaan yang pernah terjadi, melainkan hanya menyesal karena terlalu larut dan tidak bisa menghalau diri untuk menjauh.

Kau tak pernah tau, betapa besarnya keberanian yang aku coba lepaskan saat itu. Betapa aku rela menomorduakan egoku hanya untuk membuka mataku, menatapmu. Aku sebenarnya takut. Sangat takut. Tapi aku begitu menghargaimu, mencoba melihatmu dari sisi yang membuatku tersenyum. Kalaupun aku ceritakan, kau tidak akan mengerti betapa takutnya aku.

Jika boleh diakui, aku sebenarnya tau bahwa aku akan meretakkan hati. Memaksanya mengambil resiko yang paling sukar dihadapinya : merasakan kehilangan. Membuatnya semakin lemah, bukan semakin kuat. Jika kau ingin tau, inilah mengapa aku membangun dinding yang mengurungku dari segala sisi, agar hati tak perlu menderita lagi untuk kesekian kalinya.


Di titik ini, sekali lagi, Allah mengajarkanku untuk sabar. Sabar atas takdirnya. Sabar atas apa yang akan Ia berikan selanjutnya. Sabar dan jangan takut. Hadapi dulu sekuat hati.

Aku akan sabar. Jika nanti keadaan sudah lebih baik, aku yakin hati akan sembuh seperti sedia kala - tersembuhkan oleh sabar.
Read More
      edit

Sunday, September 1, 2013

Published 4:35 PM by with 0 comment

Renungan di Rantau

ISTANBUL DAY #22

Sebuah perantauan ke negeri orang selalu mengajarkan banyak hal. Tak hanya belajar tentang kefarmasian, di sini aku merasa dekat dengan Islam karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri peninggalan kejayaan Islam di masa lalu. Hagia Sophia, Blue Mosque, Topkapi Palace, Panorama Museum, dan dinding benteng setinggi ratusan meter mengisahkan segala tentang Sultan Ahmed dan perjuangannya merebut Istanbul. Ketika aku memahami sejarah itu, aku semakin mencintai agamaku.

Dan satu lagi, aku belajar sesuatu yang berharga - sesuatu yang baru aku mengerti setelah 20 tahun hidup di Indonesia. Sesuatu yang awalnya aku anggap tak perlu dihiraukan tetapi beberapa waktu kemudian menggelegak ingin dihiraukan. Sesuatu yang benar-benar aku sadari ketika aku rindu tanah airku dan pertama kalinya aku menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu ini...

Tanah airku tidak ku lupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai, engkau kuhargai

Mungkin ini yang disebut nasionalisme. Dan aku baru mempelajarinya ketika aku jauh dari negeriku.

Dua puluh tahun aku tinggal di Indonesia. Berbagai keluhan tentang carut-marut negeri itu kudengar setiap hari. Aku hampir saja membencinya.

Lalu aku meninggalkannya selama satu bulan. Aku selalu bisa menceritakan kepada mereka dengan bangga : negeriku sangat luas, memiliki ribuan pulau, ratusan juta penduduk, dan aku dilahirkan di sana. Dan mereka takjub dengannya.

Kini aku tak akan pernah berpikir untuk membencinya. Aku mencintainya.
Read More
      edit

Saturday, August 31, 2013

Published 6:18 AM by with 0 comment

Late Homesick

ISTANBUL DAY#20

Well, it's just kinda late homesick. I can't sleep in some days, maybe I miss my own bed.

I miss my mother, since she couldn't answer my videocall because of problem with her skype.

I miss my college, and wonder somehow I meet my college friends, doing the boring activity every single day together. And also sit in the class to be amazed with all the scientific things I love.

I miss you, since I realize that I always wait your message. I think we should see soon. I have so many things to tell you about and want to hear your story. I miss laughing with you.

Well, I will go home next week. I just have to survive until that day. But really I shouldn't miss anything here for a week. I will go around this city and doing something interesting of course.
Read More
      edit

Sunday, August 25, 2013

Published 5:24 PM by with 0 comment

I Feel Better #2



ISTANBUL DAY #15


It’s enough days to make this city as my hometown, right? I have 2 weeks more of staying in this beautiful city so I have to do everything that I can do.

Cerita di posting sebelumnya belum selesai kan ya? Begini kelanjutannya...

Chan tinggal di dormitory sama Cihad. Dormitory-nya luas sekali dan tak berpenghuni karena sedang liburan musim panas.

“Why don’t everyone stay here tonight?” tanya Chan.

Tapi Cihad semacam pura-pura ngak denger. Dia cuma teriak-teriak, “Whaat? I can’t hear you.”

Chan pun akhirnya mingkem. Dengan pasrah dia naik ke lantai 4 bersama Cihad dan terkesiap memandangi dormitory besar yang krik-krik itu. Semua lampu di dormitory itu otomatis. Nyalanya cuma waktu ada orang doang, termasuk di kamar mandi. Sensor lampu di kamar mandi letaknya agak di atas, jadi begitu Chan menunduk, lampunya mati. Suasana semakin horor ketika ada angin berhembus kuat lewat jendela kamar mandi. Dia pun melambaikan tangan dengan panik ke sensor untuk menyalakan lampu.

Kami yang mendengar cerita itu keesokan paginya ketawa ngakak sekaligus merasa bersalah kenapa cuma anak itu yang tinggal di dormitory.

Kemudian perjalanan berlanjut ke Izmir.

Ada yang sempat membuat syok ketika sampai di Bergama..

AKROPOLIS?
 Really? Akropolis bukannya di Yunani? Aku sudah sangat gembira mengira ini benar-benar Akropolis, salah satu tempat yang paling ingin aku kunjungi di dunia. Tapi belakangan ada yang bilang, Akropolis memang di Yunani, yang kita kunjungi ini namanya Bergama. Memang tempatnya mirip sama Akropolis, mungkin bagian dari Yunani Kuno juga.

ini kami di Bergama
Dan view dari atas bukit Bergama itu...

Subhanallah...
Kami sempat bikin video-video di tempat ini. So interesting.

Kami juga sempat makan siang di rumah temennya Cihad di tepi laut perbatasan Istanbul - Greece (Yunani). Di handphone temen-temenku ada message "welcome to Greece". Hahaha.

Malamnya kita menginap di hotel yang katanya anak-anak "normal hotel".

La Bella Hotel
Kami benar-benar termanjakan oleh fasilitas hotel yang oke punya. Late night cay, comfortable room, wifi *ini nih yang dirindukan anak-anak setelah 2 hari nggak bisa internetan. Paginya kita makan banyak macam makanan. Herannya, pengunjung hotel yang lokasinya entah dimana itu hanya rombongan kita.


Ah ya, lupa, ada peserta cilik yang ikut serta dalam rombongan ini, namanya Ibrahim. Dia ikut dengan alasan pengen belajar ngomong bahasa inggris sama kita-kita. Anak ini lucu, ngomongnya sepatah-sepatah. Apalagi sudah kebiasaan kami para delegasi minta ditranslate-kan sama teman Turki. Dia salah satu kandidat translater sebenarnya, tapi selalu bikin tambah nggak mudeng. Heehehe. Nggak apa-apa, anak usia 14 tahun berani praktek bahasa inggris langsung sama turis aja hebat sekali sudah.
Ibrahim

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Efes. Ini juga sisa-sisa peradaban Yunani Kuno kalau nggak salah. Efes ini sangat luas, salah satu tempat yang paling besar adalah stadion gladiator. Dulu para gladiator diadu dan dipertontonkan di sini.

Efes


Setelah itu kami kembali ke Istanbul. We really miss Istanbul, as if it's our own hometown. Di titik inilah kami berkata "go home" yang refer to Istanbul.

Here we come back, Istanbul. Rombongan heterogen etnis yang seru ini akan menghabiskan sisa-sisa hari dengan menjelajahimu bersama-sama.
Read More
      edit

Wednesday, August 21, 2013

Published 2:53 AM by with 0 comment

I Feel Better

Istanbul Day #10

Okay, what's going on in my first week?

A lot of things happened!

I wanna try to write in Indonesian. I think there's something wrong in my brain. When I speak Indonesian too much, I can't find any English words, and when I speak English too much, it becomes so hard to speak Indonesian.

Minggu kemaren aku sama Tisa dapet jatah one-week off. Sebenarnya ini karena tempat prakteknya Tisa lagi pindahan makanya dia belum bisa praktek, dan SEO-ku bilang aku boleh libur juga nemenin Tisa. Yeyeye!

Minggu kemaren juga aku pertama kali bertemu dengan teman-teman SEP. Mmm, firstly, I'm very nervous. *it's honest, guys* Ini pertama kalinya aku menjajal kemampuan inggerisanku di negeri orang setelah sekian lama melupakannya. Dan ini adalah lingkungan baru yang sangat baru buatku. Orang-orang dari berbagai belahan dunia, yang terkadang menyebut namanya dengan benar saja aku tidak bisa, dan mungkin sama sekali tidak tau dimana posisi negara mereka di peta dunia. Mereka dari Taiwan, Malaysia, Serbia, Mesir dan beberapa tim SEP dari Turki. Ditambah lagi, mereka sudah pada akrab dan aku baru bergabung. Can you imagine? It's enough for me to be nervous. I'm not that brave anyway, I should confess it now. Jadilah aku seperti pengamat sejati di antara mereka.

"Okay, this is my first time. It's normal." batinku.

Tapi semuanya membaik ketika kami liburan weekend kemaren. Kami menjadi rombongan manusia berbagai etnis yang bersatu meninggalkan Istanbul demi mengambil kitab suci. Haha :p

Bye bye Istanbul!

Tujuan kami adalah Bursa - Manisa - Izmir. I didn't have any idea about those place even our Turkish friends tried to explain me something.


Three Destinations
PJ acara jalan-jalan ini adalah Cihad (baca : Jihad), teman Turkish kami yang terlihat senior. Ingat tokoh Farhan di film 3 Idiots? Nah, sekilas wajah Cihad mirip sama Farhan. Nanti Anda bisa memastikannya di foto.

Let's start with Bursa!

Sekitar 5 jam perjalanan darat dengan minibus dari Istanbul, kami tiba di Bursa. Kami mengunjungi banyak macam masjid di sana. Cami Ulul Jami', dan dua masjid lain yang aku lupa namanya. Setiap masjid menjadi saksi sejarah Islam di era Ottoman. Makam dari guru Sultan Ahmed, dan keluarga Celebi bisa kita temukan di sekitar masjid-masjid itu. So this is special for Muslim karena bisa sekalian ziarah.

Left to right : Mustafa, Ibrahim, Husna, Nigul, Chan, Biljana, Kubra, Chyntia, Tisa, Sevdenur, Sumeyye, Kubra *sorry I can't spell your name correctly, guys :(
 Itu foto di masjid pertama yang kami kunjungi di Bursa. Sangat sejuk dan indah. Sepertinya semua masjid di negara ini selalu dibuat seperti itu. Semua yang memasuki masjid harus menggunakan pakaian yang pantas. Jika tidak, orang-orang Turki tak segan mengingatkan.

Cihad, dengan koneksinya yang luas, selalu dapat memastikan kita mendapatkan tour-guide gratis. Entah itu temannya, entah itu hasil nguping dari tour-guide kelompok turis yang kebetulan melintas. Dan dia dengan senang hati men-translate ke bahasa Inggris. Kadang kami keterlaluan, Cihad sudah menjelaskan panjang lebar dan kami tidak mengerti dan tidak menunjukkan respon apapun. Ketika Cihad berlalu, baru kita ngomong satu sama lain, "I don't get it." dengan muka cengengesan.

Dan kita menyantap ini untuk makan siang....

Iskandar Kebap special from Bursa, yummy!
Aku dan Ammar berharap kita bisa menemukan Iskandar Kebap di negara kita masing-masing. 12 TL, mahal memang tapi saangaat lezat.

Kunjungan Bursa diakhiri dengan memandangi clock tower pertama di zaman Ottoman dan bendera Turki yang tiangnya tertinggi di seantero Turki. Setelah itu kami masuk minibus lagi dan pasrah saja dengan rencana Cihad karena dia tidak memberikan informasi apapun.

Manisa

Kami bangun dari tidur nyenyak di minibus sekitar pukul 11 malam dan baru menyadari bahwa ini bukan lagi Bursa, tapi kota lain yaitu Manisa. Jika ada yang melihat serombongan manusia berbagai etnis makan di restoran kecil di sudut jalan Manisa jam 11 malam, mungkin itu adalah kami. Rasanya ngantuk bercampur lapar itu... hmm, okay, just skip the dinner, kata Chan. Hahaha.

Our Late Dinner
Cihad adalah yang berbaju biru dan berkacamata. Bagaimana, mirip? :p

Setelah tertawa dan kenyang, tiba-tiba mobil menjemput dan hanya Husna, Kubra dan aku yang disuruh naik. Kata Kubra, aku dan dia akan nginep di sebuah flat malam ini.

"Whose flat?"

"Of course Turkish family's flat."

"Hah? You mean homestay?" aku membelalak. Sumpret, kagetnya pake banget. Tidak ada satupun yang bilang kalau kita homestay di Manisa. Aku pikir bakalan nginep di hotel biasa.

Aku dan Kubra diturunkan di depan apartemen dan dari lantai 4 ada keluarga kecil yang melambaikan tangan. That's our new family! Mereka benar-benar keluarga yang ramah. Begitu masuk flatnya, aku dan Kubra disambut salam cipika-cipiki hangat dari dua orang ibu-ibu dan tiga orang anak kecil.

Aku cuma bisa teriak-teriak ke Kubra, "What's the idea behind this all?"

Dan Kubra menjawab simpel, "Just trying to find somewhere to sleep."

Husna besoknya menjawab lebih simpel lagi, "Just because of Muslim family."


Aku merasa hangat di tengah-tengah keluarga kecil ini. Ibu yang ramah, tiga anaknya Zeynep, Meryama, Zehra. Meskipun aku ndak ngerti bahasa Turki sama sekali, aku tetap merasa nyaman. Mereka sudah menunggu dari jam 9, dan kami baru sampai sana jam 12 malam. Aku punya Kubra sebagai translater. Kata Kubra, mereka senang sekali aku bisa tinggal sama mereka :')

Kubra juga bilang Zeynep pengen coba-coba kemampuan bahasa inggrisnya, tapi satu-satunya yang dia bilang ke aku cuma, "How old are you?". Hahaha, okay keep trying dear.

Kita ngobrol sampai jam setengah dua, dengan ditemani puding enak saus jeruk, turkish delight, dan cay (teh) tentunya.
Behind (left to right) : Chyntia, Chyntia's Turkish mother, Zeynep | Front (left to right) : Zehra, Meryama

Ternyata semua ini adalah hasil kerja keras Cihad. Keluarga-keluarga yang menampung kami adalah kenalan dosennya Cihad. Dan orang yang mengantar-jemput kami dengan mobil adalah temen dosennya Cihad. Ckckck begitulah Cihad, mudah sekali menemukan koneksi.

Besoknya ketika kami semua berkumpul lagi di parkiran minibus, kami saling bercerita tentang keluarga baru kami dengan bangga. Semuanya, kecuali teman Taiwan kami, Chan. Dia satu-satunya yang tidak tinggal di rumah keluarga, tetapi di dormitory (asrama) sama Cihad. Dia punya cerita yang bikin kami semua ngakak tiada henti. Seperti apa ceritanya? Tunggu di posting selanjutnya yak!
Read More
      edit