Monday, August 12, 2013

Published 12:12 PM by with 0 comment

6233 Miles


Istanbul Day #1

Good morning. It's now 7.35 a.m here, but looked like 5 a.m in Indonesia. So quiet. I have just waken up from my 15 hours sleeping *Oh My God, I'm sleeping beauty wanna be. And my partner, Tisa, is sleeping again after meals -_- We're so tired.

We arrived yesterday morning after a terrifying-amazing trip. Wuuh. And now we have pain in all over our bodies. We really really need 'tukang pijat' *.* Vildan picked us at airport, and we go to her flat by subway. After passed 10 subway station, we walked and walked and pulled our heavy suitcase. I think it's about 5 kilometers and the road is uphill.
the road we walk after subway station


And here, we stay with Vildan and her sister in their own flat. It's a beautiful flat. They tidy it up for us. Woow, so fine, aren't they? :')

And Vildan ask whether we wanna go to some tourism object after take a shower. And  I absolutely answered yes without remembering how tired my legs are. Hahahaha. She brought us to Istanbul University and a park that I can't spell it correctly. Everything in Istanbul is beautiful. It's really the best city ever. It's 6233 miles from home and I don't wanna go home too soon. Hahaha.

Here are some photos x)


step on singapore for a while x)

it's my favorite view : clouds in twilight. That's why I wanna be a pilot, be the witness of sky.
watching One Direction during flight :3

me and Vildan in subway
in bla bla bla park (I can't spell the name)

Read More
      edit

Friday, August 9, 2013

Published 9:44 AM by with 0 comment

Skenario


Skenario Allah itu indah sekali..

Pernah menyadarinya? :)

Ia membiarkanku bermimpi sedari dulu, dan aku menyusunnya dengan penuh semangat hingga berderet-deret entah berapa. Aku selalu diajarkan untuk percaya, dan menjadi pemimpi paling handal yang pernah ada. Imajinasi liar berkonsiliasi denganku membentuk angan, lalu aku berserah. Dalam doaku selalu terjadi serah-terima angan-impian dengan-Nya. Kuletakkan di pangkuan-Nya, dan terkadang ku lupakan.

Waktu bertumbuh, semesta pun bergerak. Aku hanyalah sebutir partikel di antara semesta-Nya. Aku sadar itu. Aku juga sadar bahwa impianku begitu besar hingga sulit mengangkatnya dengan kedua tanganku; begitu tinggi hingga untuk melihatnya aku harus mendongak. Tangan ini terlalu kecil untuk meraihnya. Tubuh ini terlalu ringkih untuk menopangnya. Kaki ini terlalu lemah untuk melompat menggapainya. Jadilah aku hanya terdiam tak berdaya.

Awalnya masih berkeras : itu sudah terlanjur jadi impianku, aku harus mendapatkannya. Namun pada akhirnya aku ingat bahwa aku telah menyerahkannya pada Yang Maha Besar. Aku sudah bilang angan-impian itu untuk-Nya, maka terserah mau diapakan.

Ya sudah, mau bagaimana lagi?

Aku menghitung hingga tiba waktu yang tepat untuk menyerah. Menyerah, untuk tidak ingin dikatakan gagal.

Aku ingat, saat itu aku menangis dalam sujud, tetap berkata bahwa aku mempercayakan semua kepada-Nya. Impian itu sudah semakin tinggi, semakin tak teraih bagiku. Aku tak menemukan penghiburan selain kata menyerah yang menghantui. Sudahlah. Aku sudah melepaskannya. Aku tidak memintanya kembali, hanya meminta ‘ikhlas’ sebagai pengganti…

Ikhlas : Sudah, Allah, sekarang aku menurut dengan skenario-Mu. Biarkan impian itu tak teraih bagiku. Satu-satunya yang kupercaya tetaplah Engkau.

Berikutnya langit selalu mendung.

Mendung..

Dan hujan..

Aku berbaur di rintik hujan tanpa berani mendongak lagi..

Begitulah. Dramatis. Lalu penyelesaiannya?

Ada suasana seperti peristiwa kemunculan pelangi setengah lingkaran raksasa setelah hujan, atau seperti kunang-kunang yang melintas di tengah kegelapan. Seperti itulah yang ingin diberikan-Nya padaku : kejutan. Tak disangka-sangka. Membuatku kembali menangis dalam sujud, menyatakan betapa takjub diri ini atas pelanginya, kunang-kunangnya. Juga rasa terima kasih yang tiada habisnya. Dikembalikan-Nya impian itu padaku, bukan lagi dalam angan, tapi sungguh nyata, yang bagiku menjadi suatu bukti kebesaran dan cinta-Nya.

Sungguh, skenario Allah itu indaaah sekali...

Kau harus menyadari itu :’)
Read More
      edit

Saturday, August 3, 2013

Published 11:25 PM by with 0 comment

Sejak Bulan dan Bintang Menatap Kita

Malam semakin larut. Di luar jendela segalanya hitam tak bercela. Hingga nanti mentari terbit, alam tetap akan konstan begini. Membuat hati menerka kegelapan. Naungan bintang-bintang tak sanggup lama ku tatap. Aku bukan lagi seorang yang suka menatap bintang dan berbaur di kegelapan. Aku lebih suka duduk dengan segelas susu hangat di balik jendela, membiarkan bintang dan bulan menatapku, mencari perhatian. Lalu kulihat sesosok makhluk menatapku dengan tatapan seindah bintang dan bulan, juga mencari perhatian. Untuknya aku menggeser tempat dudukku, memberinya ruang untuk berbicara, dan ku dengar. Lalu kita tertawa lepas hingga bintang dan bulan saling bertatap iri. Sulit sekali menyatakan rasanya. Yang jelas susu vanilla yang ku minum menjadi lebih manis dan kantukku tak lagi ku cari. Semoga segelas kopi yang diseduhnya juga menjadi lebih nikmat. Aku tak perlu lama mengenalnya, juga tak pernah menyesal mengenalnya.

"Aku masih seegois aku - entah bagaimana denganmu. Tapi aku rela meruntuhkannya untuk memberi ruang untukmu, untuk tetap mendengarmu, menatapmu, tertawa bersamamu. Bahkan mungkin kau ajak bersedih pun aku akan tetap bilang mau. Begitu saja. Dan sejak saat itu juga aku takut kehilanganmu, takut kau lupakan aku, takut kau pergi dari ruang yang telah ku beri. Kau, sahabatku, sejak bulan dan bintang menatap kita hingga selamanya." :)
Read More
      edit

Friday, August 2, 2013

Published 10:46 PM by with 0 comment

Ini KKN-ku :)



Aku ingin menceritakan semuanya. SEMUANYA! SEMUA tentang hidupku yang ajaib dan menakjubkan ini.

Masa KKN (Kuliah Kerja Nyata.red)-ku iiiiindaaaah sekali :D Sulit menggambarkan betapa indahnya, tapi aku ingin semua orang mengerti seindah apa itu.

Berawal dari pembagian kelompok dan pindah-pindah kelompok yang cukup berprahara buat cewek imut ini (hehe), akhirnya Allah memutuskan untuk menitipkan aku di desa Jrebeng, kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo bersama 9 orang lainnya. Begitu berangkat ke tempat KKN sudah seneng banget rasanya. Aku sampai meloncat-loncat kegirangan, “Let’s escape from Surabaya!!!” Iya, aku lagi jenuuuuh sekali dengan Surabaya dan apa-apa yang terjadi di sekitarku saat itu. Meskipun membawa beban yang berasa kayak batu pengganjal pintu kamarku, aku akhirnya pergi juga dari kota kelahiran menuju tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya.

Daan jadilah kami sebuah pasukan yang tinggal di rumah keluarga Pak Imam yang baik hati. Segalanya berjalan lurus dan sedikit meliuk-liuk, tapi apapun itu selalu bisa dimaklumi, kan kita berasal dari fakultas yang berbeda-beda. Jaim-jaiman di awal itu biasa. Begitu masuk minggu kedua, mulai keliatan aslinya semua. Sepuluh orang sableng itu adalah Faisal, Harris, mas Adi, Dinda, Lintang, Dewi, Chikara, Tarina, Gracia, Chyntia. Yang disebutin terakhir itu adalah korban tetap bully-an di kelompok, dan sepertinya adaa aja kasus aneh yang menimpanya selama masa KKN. Hahaha.

Sementara yang lain masih suka ngeluh-ngeluh kangen rumah, nggak betah dan sejenisnya, aku sudah feel homey banget. Suasananya enak sih, seenak nasi jagungnya Bu Imam. Di depan rumah ada ladang jagung, di samping rumah ada ayam, di belakang ada peternakan burung puyuh. Biyuuh, ini nih baru desa. Aku sering ngeksis di dapur bersama Bu Imam kalau pas nggak ada kegiatan, sementara yang lain asyik main game, tidur, dan lain-lain. Pokoknya aku harus memanfaatkan masa-masa KKN ini sebaik-baiknya, melakukan hal-hal yang seru yang nggak pernah aku lakukan di ‘kehidupan nyata’, begitu niatku.

Seiring berjalan waktu, kita sudah berubah status menjadi keluarga kecil. Kita semakin berisik. Rumah semakin berantakan. Baju kotor semakin menumpuk. Tawa dan canda tak henti-henti. Masakan Bu Imam semakin enak. Dan kita melakukan semuanya bersama sejak bangun tidur, buka puasa, sahur, sholat, ngaji, bikin mi, nonton film, proker, hingga tidur lagi. Ooooh what a life! Seiring berjalan waktu juga, mas Adi semakin pintar ngebully, aku cuma bisa meringis dan teriak-teriak jengkel kalau dibully, Faisal semakin sering bilang ‘kiiiitaaa?’ dengan nada menyebalkan, Harris semakin ahli masang LCD buat nonton bareng dan menularkan kebiasaan buruk buang sampah di bawah kursi, Tarina semakin malas mandi padahal dulunya rajin, Dinda sering bersih-bersih rumah, Chikara masih terus saja nge-game, dan lain-lain, banyak sekali kalau disebutkan semua. Aku juga semakin sering masak apapun yang bisa dimasak buat mereka, sering juga menerima pesanan dari mereka. Bikin omelet, mie instan, pancake, jamur crispy. Sudah macam warung saja. Aku yang pada dasarnya nggak bisa diam ya seneng-seneng aja, bikin rusuh dapurnya Bu Imam.

Proker-proker kita berjalan dengan penuh improvisasi di bawah komando pak ketua kita, Faisal, yang kalau habis sahur sering bermetamorfosis menjadi Ijah yang rajin mencuci piring :p Di sini poin penting yang bisa kita pelajari : improvisasi, yang kemudian diklaim menjadi keahlian kita. Segala keterbatasan tidak akan membatasi kita mencapai keberhasilan, bukan? x)

Oya, kelompok KKN Jrebeng ini punya pasukan khusus beranggotakan anak-anak kecil yang tiap hari ikutan nongkrong di rumah Bu Imam. Mereka ini meskipun kadang nakal, tapi berguna banyak untuk kita. Yang kelas 6, adalah murid-muridku di sana. Tiap sore selalu berisik nyariin kak Chyntia, minta diajarin ini itu. Bersama mereka, kita belajar berbagi apapun yang bisa kita bagi. Mereka suka berbagi sepikan. Aku dapet banyak sepikan keren dari mereka, kayak gini nih :

Ikan Hiu bergoyang-goyang. I love you sayang.

Dulu delman, sekarang dokar. Dulu teman, sekarang pacar.

Kak, daripada main hp, mending main hatiku.

Dasar, anak-anak jaman sekarang mainnya sepik-sepikan -__-

Pasukan anak-anak kecil ini bikin kehidupan di rumah Bu Imam semakin berisik. Awalnya kakak-kakaknya (kami.red) suka sebel sama mereka, tapi lama-lama jadi sayang juga. Sudah kayak adek-adek sendiri.

Di sana juga, aku merayakan ulang tahun ke 20 paling berkesan di dunia. Waktu itu, kita lagi ada proker pembagian baju bekas layak pakai di balai desa, trus tiba-tiba pasukan anak-anak kecil dipimpin oleh pak ketua kita datang membawa kue tart dengan lilin angka 20. Ckckck, how sweet that I could die. Tapi angka 2-nya janggal, nggak ada sumbunya. Dan kemudian aku baru nyadar kalau itu sebenarnya angka 5 yang dibalik. Tusuk giginya nemu pula. Benar-benar improvisasi yang kreatif -__- Lalu ada lagi yang lebih heboh, keliling desa naik mobil pickup sama anak-anak kecil itu sampai pasar. Mereka heboh nyanyi-nyanyi dan ngelempar petasan. Sungguh, baru kali itu aku ngerasain naik bak belakang pick up rame-rame malem-malem. Pulangnya, mereka nari Reog di halaman rumah Pak Imam. Aku sempat jadi sasaran empuk colek-colekan krim kue tart sampai lantai rumah lengket semua. Nggak cuma aku aja sih, semua ikutan kena. Gara-gara itu aku langsung mandi deh malem-malem. Trus habis itu, pas sudah mau bobok cantik, grup Kece datang, bawa kue tart juga. Kali ini angka 2 nya benar-benar angka 2.

Belum lagi acara jalan-jalannya! Aku sempat motoran ke Sukapura, kecamatan yang paling dekat dengan gunung Bromo. Awalnya mau sowan ke desanya mamah Anggi, tapi dimarahin nggak boleh kesana karena jalannya bahaya. Eh tapi habis itu malah ke desanya Utari yang jauh lebih menanjak lagi. Hehehe. Di sanalah aku dan Tarina menemukan jamur kancing yang gede-gede dan enaaak (jadi laper). Trus kalau ke kota sih sudah beberapa kali. Ke kantor BLH, ke Giant, ke alun-alun. Pernah juga ke pantai Bentar. Ke Madakaripura sama grup Kece juga pernah. Trus terakhirnya kami sekelompok jalan-jalan ke Penanjakan dan Madakaripura. Yeee :D *goyang-goyangkan tangan di udara.

Dan masih banyak lagi cerita selama KKN yang singkat itu. Di sana aku menemukan liburan, pengalaman, keluarga baru. Eh iya, ada yang ngasih pantun gini : Dulu delman, sekarang pesawat. Dulu teman, sekarang sahabat x) Iddiiih!

Desa itu berasa desaku sendiri. Aku pasti merindukannya. Aku ingin mengunjunginya suatu saat nanti. Ketika anak-anak bandel itu sudah besar. Ketika segala fasilitas di sana sudah semakin baik. Ketika sungai tempat kami bermain masih sama indahnya seperti sekarang.

Semoga kelompok KKN berikutnya, yang entah siapa, bisa merasakan kebahagiaan dan rasa diterima yang sama di desa ini. Semoga yang kami lakukan untuk desa ini, meskipun sedikit, bisa jadi stimulus perbaikan ke depannya. Semoga.

Terima kasih, KKN. Terima kasih, Jrebeng. :)


Read More
      edit

Monday, July 8, 2013

Published 10:31 PM by with 0 comment

catatan UAS-KKN

ALHAMDULILLAH, UAS kelar. Biyuuh rasanya ada beban yang terangkat, legaa. Usai sudah dua minggu lebih satu hari yang membuat pikiran dan hati agak keseleo. Semester ini aku suka sekali kuliahnya, tapi ternyata ujiannya bikin down. Nilai A semakin mahal harganya. Aaah~

Lalu esok... berangkat KKN :D i'm so grateful of escaping from this town. Hahaha. Gara-gara hari ini masih ada ujian praktikum Farmakokinetika, anak-anak Farmasi nggak bisa berangkat bareng rombongan kawan-kawan fakultas lain yang naik bis hari ini. Jadi tadi ke kampus C pagi-pagi, naruh koper sama barang-barang lain di bagasi bis, lalu say goodbye sama temen-temen JRB 48 (kelompok KKN Desa Jrebeng, Wonomerto, Probolinggo. red). Koper sama barang-barangku sekarang udah nangkring dengan manis di Jrebeng, sedangkan yang punya masih di Surabaya, menghirup atmosfer bebas-UAS sesaat. Besok berangkat bareng anak-anak Farmasi lain yang tentu saja nasibnya sepadan sama aku. Berangkatnya pagi bener, jam 7, kayak kuliah-praktikum aja, huaa.. padahal pengen balas dendam tidur lho (tuh kan nggak berubah -__-) Tapi nggak apa, lebih cepat meninggalkan Surabaya, lebih baik.

Dan karena KKN cukup lama, sekitar 3 minggu lebih dikit, segala-galanya sudah dipindahtangankan ke adek-adek manis yang kayaknya masih 'nggelibet' di kampus pasca UAS, jadi inget masa-masa semester muda hahaha. Tapi tetep aja masih ada tanggungan nulis artikel sama skrip komik. Yah gampanglah, ntar di sana habis tadarus dilanjutkan memandang langit untuk mencari inspirasi. Semoga langit Jrebeng cerah dan penuh bintang :)

Sebenarnya dalam hati, kalau ingat tujuan besarnya KKN, rasanya belum siap. Ada banyak ketakutan yang entah apa. Rasanya seperti anak itik yang lama dibesarkan di kandang dan kemana-mana ngikutin emaknya, terus habis itu disuruh pergi nyari makan sendiri. Biar mandiri, kata emaknya. Mungkin ini salah satu cara untuk (sekali lagi) keluar dari zona nyaman. Ayo, mahasiswa bisa! Hiyaaaat!
Read More
      edit